Horang Kayah

Suatu fakta bahwa di dunia ini banyak orang yang masih hidup di masa lalu, tetapi hal itu tidak membantu mereka untuk hidup lebih baik.

Contoh, dalam film Rocky 6, diceritakan bahwa Rocky selalu bercerita tentang kemenangan-kemenangannya di masa lalu pada para pengunjung kafenya. Dan ceritanya itu-itu saja, seoleh dia butuh pengakuan tentang kehebatannya di masa lalu.

Hal yang sama mungkin terjadi di dunia nyata, saat seseorang yang pernah berjaya tapi kemudian bangkrut dan hidup dalam keterpurukan, hanya bisa menceritakan tentang masa-masa jayanya pada banyak orang, tetapi dia tidak melakukan apa-apa untuk memperbaiki hidupnya.

Lanjut Gan...
Horang Kayah

Mempelajari ilmu pengembangan diri selama bertahun-tahun, terutama yang berhubungan dengan pikiran bawah sadar, belief system, mindset dan semacamnya, maka saya jadi terfokus pada satu hal, bahwa semua akar masalah berada di pikiran bawah sadar dan harus dibereskan melalui re-edukasi ulang pikiran bawah sadar.

Ketika seseorang merasa malas untuk action, ketika seseorang tidak berani untuk mengambil tindakan yang mungkin bisa mengubah hidupnya, maka kembali kita berurusan dengan mental block yang akar masalahnya tersimpan di pikiran bawah sadar.

Semuanya selalu kembali ke sana, hingga saya mulai bingung karena merasa ada satu missing link, karena jika kita adalah umat beragama maka kita tahu bahwa Allah juga menciptakan satu mahluk yang bernama setan.

Lanjut Gan...
Horang Kayah

Wah ternyata sudah lama sekali saya tidak nulis di blog ini. Dan saya baru ingat punya blog ini hehehe. Sekali-sekali update artikel di sini rasanya perlu juga.

Ya, banyak yang terjadi dan yang saya alami selama beberapa tahun terakhir ini, begitu banyak perubahan pada diri saya maupun orang-orang di sekitar saya.

Saya menyaksikan ada orang-orang yang berubah menjadi pribadi yang lebih positif dan lebih sukses setelah mengalami keterpurukan. Tetapi sebaliknya ada juga beberapa teman baik yang berubah ke arah negatif, padahal beberapa di antara mereka adalah guru-guru pengembangan diri saya.

Lanjut Gan...
Horang Kayah

Tuhan menciptakan alam semesta ini secara seimbang. Tak ada sesuatupun yang tidak seimbang. Dan tidak ada yang sia-sia, bahkan hal positif dan negatif pun diciptakan untuk keseimbangan. Tapi jika kita merasa hidup ini berat sebelah, maka perlu dipertanyakan pada diri kita sendiri, jangan-jangan kita sendiri yang membuatnya tidak seimbang.

Jika kita hanya menggunakan otak kiri, maka itu tidak seimbang. Begitu juga jika kita hanya mengandalkan otak kanan, itu tidak seimbang, karena otak kanan dan kiri sama-sama ciptaan Tuhan yang bermanfaat.

Jika kita terlalu sering berpikir negatif, maka hidup tak akan seimbang. Oleh karena itu kita harus menyeimbangkan diri dengan memulai sikap positif yaitu prasangka baik pada Tuhan.

Seimbang bukan berarti kita harus menyeimbangkan antara maksiat dan ibadah, karena jika sudah bicara urusan akhirat, maka hal positif harus lebih besar daripada negatif.

Tetapi yang namanya hal negatif tak akan pernah bisa lenyap dari muka bumi, dan kita hanya bisa menguranginya tapi tak bisa melenyapkannya. Hanya saja, tanpa disadari mungkin selama ini kita lebih condong hidup di sisi negatif bahkan seimbang dengan positif saja belum. Tapi belum apa-apa sudah merasa positif, merasa dosa hanya sedikit, hingga akhirnya protes ketika masalah tak kunjung usai, merasa Tuhan tidak adil, karena merasa sudah berbuat banyak kebaikan, merasa tidak melakukan dosa besar, tapi tidak introspeksi pada hal-hal kecil yang justru sering luput dan dianggap biasa saja.

So, mari kita mulai dengan mengecek keseimbangan dulu antara hal positif dan negatif dalam hidup kita, mana yang lebih besar saat ini? Kemudian setelah menyadari bahwa negatifnya ternyata lebih besar, lanjutkan dengan memperbesar positifnya agar lebih besar bobotnya dan memudahkan kita di kehidupan akhirat kelak.

Wallahualam

Lanjut Gan...
Horang Kayah

Salah satu sifat yang harus ditaklukkan untuk mencapai kesuksesan adalah "malas". Ternyata sifat ini terkadang bergerak dalam "invisible mode", sehingga orang jadi tak sadar bahwa dia menjadi pemalas.

Hal ini saya sadari belum lama. Ketika saya merenung kok kenapa belum ada perubahan signifikan dalam beberapa cita-cita yang ingin saya capai. Ternyata bukan karena caranya yang salah, juga bukan karena soal "belum waktunya", tapi karena ada rasa malas yang tersembunyi yang saya sendiri tidak menyadarinya selama ini, sehingga menghambat saya dalam take action dalam meraih cita-cita.

Salah satu indikasinya adalah seringnya muncul ucapan, "Ah ribet...ah susah..." ketika mempelajari atau melakukan sesuatu. Intinya tidak mau repot, dan tidak mau repot berarti inginnya serba mudah. Well, siapa sih yang tidak ingin kemudahan?

Tapi kita juga sering terperangkap dengan definisi kemudahan yang diartikan nyaris tanpa usaha, atau terjadi begitu saja tanpa usaha. Kalau menurut saya sih, semua juga butuh usaha. Doa saja sudah termasuk usaha kok. Dan yang namanya kemudahan justru akan datang pada saat kita mau menempuh kesulitan. Karena ketika kita mau dan mampu menikmati sesuatu yang sulit itu, maka segalanya akan terasa mudah.

Dulu saya menganggap programming HTML itu ribet dan susah. Tapi ketika "dipaksa keadaan" untuk serius mempelajarinya, ternyata lumayan bisa juga ya hehehe...

Dan saat ini saya sedang menantang diri untuk melakukan sesuatu yang sejak dulu saya anggap ribet dan susah. Tapi ketika mulai dipelajari sungguh-sungguh, ternyata asyik juga. Well, berarti selama ini saya cuma terlalu malas untuk berusaha saja, karena masih punya mental instan, maunya serba cepat dan mudah, alias malas. Tapi saya lupa bahwa kesulitan bisa mendatangkan kemudahan ketika dijalani. Pantas saja ajaran agama mengatakan "Bersama kesulitan ada kemudahan" :)

Lanjut Gan...
Horang Kayah

Secara umum, dalam aspek kehidupan, ada dua hal yang menjadi sifat manusia:
- Mengejar kesenangan
- Menghindari penderitaan

Akan tetapi, kita hidup di dunia dualisme, dunia yang diciptakan Tuhan secara seimbang. Ada panas dan dingin, ada gelap dan terang, ada pendek dan panjang, berat dan ringan, dll...yang semua itu diciptakan untuk keseimbangan. Tidak ada kesia-siaan dari segala sesuatu yang diciptakan Tuhan.

Jadi jelaslah bahwa di dunia ini selalu ada dua sisi yang saling melengkapi. Tentu saja kita menginginkan kebahagiaan tapi kita tak bisa menampik ada sisi lain kehidupan berupa titipan masalah, baik itu berupa azab yang diakibatkan oleh perbuatan kita sendiri, maupun yang merupakan ujian dari-Nya. Perbedaannya sangat tipis, karena azab diturunkan pada orang yang berlebihan, sedangkan ujian diberikan pada orang yang akan dilebihkan.

Yang menjadi penentu berat ringannya beban suatu masalah adalah pemaknaan yang kita berikan terhadap masalah tersebut, apakah kita mau berfokus pada sisi negatifnya, atau sisi positifnya. Karena dalam musibah setragis apapun akan tetap ada sisi positif yang bisa diambil. Ketika dapat masalah, kita tak bisa menyangkalnya sebagai ilusi atau sesuatu yang tidak nyata, karena masalah itu memang ada. Tapi juga jangan menampik sisi baik yang pernah dan selalu kita terima. Jangan sampai berfokus pada sisi penderitaannya saja sehingga lupa pada nikmat-nikmat yang telah diberikan Tuhan. Karena seberat apapun penderitaan seseorang, pasti dia juga pernah merasakan kebahagiaan, dan akan selalu bisa kembali menikmati kebahagiaan jika dia menyadari dan memutuskan untuk mensyukuri semua nikmat yang ada dan akan selalu diterima.

Seberapa baik kemampuan pemaknaan terhadap masalah akan ditentukan oleh seberapa tinggi level kesadaran seseorang. Namun ini bukan berarti seseorang yang sudah punya tingkat kesadaran tinggi lantas tak akan pernah marah ketika melihat ketidakadilan, atau tak akan menangis ketika kehilangan orang-orang yang dia sayangi, atau tak akan takut ketika menghadapi suatu ancaman. Karena sedih, marah, takut, dan berbagai macam perasaan lainya pun adalah ciptaan Tuhan, dan segala sesuatu yang diciptakan Tuhan sama sekali tidak sia-sia. Yang membedakan mereka dari orang awam adalah kemampuan untuk ikhlas menerima kehadiran perasaan-perasaan apapun yang ada, tapi tidak berlama-lama diam di sana, dan memutuskan untuk berbaik sangka pada Tuhan serta menempuh solusi yang sesuai dengan petunjuk-Nya.

Ketika menghadapi masalah yang berlangsung lama dan seolah tak ada akhirnya, banyak orang yang berkata saya sudah berusaha, berdoa, berpikir positif, berfokus pada hal positif, tapi kenapa masalah tak kunjung selesai juga?

Well, banyak faktor penyebab yang tak bisa disebutkan satu per satu, karena tak akan ada akibat jika tak ada sebab. Tapi juga perlu kita sadari bahwa tak ada masalah yang tak ada jalan penyelesaiannya. Tuhan sudah menyediakan banyak jalan menuju solusi, tinggal kitanya mau atau tidak menjalani. Jadi ketika kita ingin hasil/akibat yang baik, maka ciptakanlah sebab yang baik. Minimal dengan berpikir baik, berkata baik, dan bertindak baik. Tak akan ada kebaikan yang sia-sia, karena barangsiapa melakukan kebaikan meski hanya sebesar biji dzarrah pun, maka dia akan melihat balasannya. Demikian pula sebaliknya.

Maka ketika menghadapi masalah, kita hanya perlu berdamai dengan masalah itu dengan cara menyambutnya dan tidak perlu menolak apalagi menghindarinya, karena ketika kita membiasakan diri lari dari masalah maka kita tak akan pernah mampu menyelesaikan masalah. Ujung-ujungnya jadi orang yang mudah depresi bahkan bunuh diri.

Ingin masalah cepat selesai? Tentu saja itu keinginan yang wajar, apalagi jika masalah tersebut sudah berlangsung terlalu lama. Tetapi kita akan lebih mudah melihat petunjuk disaat kita sudah membuka diri untuk berdamai dengan masalah itu sendiri dengan cara menyadari makna dari masalah tersebut, mengubah sudut pandang tentang masalah itu, dan bergantung pada kekuatan-Nya untuk penyelesaiannya.

Pikiran optimis tak akan seketika mengubah keadaan, tapi akan mengubah persepsi kita dalam menghadapi keadaan. Dan itu sudah modal besar yang harus disyukuri. Apalagi mengubah perspektif jauh lebih mudah daripada mengubah kenyataan, karena ketika perspektif berubah, kenyataan pun akan mengikuti. Kita akan melihat apa yang kita percayai, bukan percaya setelah melihat bukti. Hidup yang masih begitu-begitu saja adalah refleksi dari apa yang kita yakini meski tanpa disadari.

Secara kasat mata, pertolongan Tuhan memang tidak selalu tampak datang seketika, tetapi ketika diturunkan rasa optimis dan ketenangan ke dalam hati kita, maka itu sudah sangat tak ternilai harganya. Dan berawal dari ketenanganlah semua petunjuk akan mulai terlihat nyata.

Ketika kita mengatakan saya sudah berdoa, sudah berusaha, sudah lakukan ini itu, tapi kok masih begini-begini saja...maka kita belum memasuki level kesadaran penuh, baru sekedar tahap kesadaran untuk "mencoba" agar melihat hasilnya. Sedangkan perintah Tuhan bukan untuk dicoba-coba, tapi untuk dijalankan. Dan dijalankannya pun bukan hanya sekedar untuk meraih solusi tapi juga untuk menggapai ridho Ilahi. Karena itulah hasilnya lebih mudah kelihatan ketika kita mampu melepaskan keterikatan pada hasil yang diinginkan, karena kita berserah pada Tuhan yang lebih tahu apa yang kita butuhkan.

There is no try, only do.
(Mr.Miyagi in Karate Kid Movie)


Punya pengetahuan tentang kesadaran saja tidak cukup jika tidak pernah dipraktekkan. Tapi jika dipraktekkan kemudian berhenti dalam beberapa hari karena belum terlihat adanya solusi, maka itu adalah indikasi dari Mental instan. Segala sesuatu ada prosesnya, mie instan yang berlabel instan saja harus direbus dulu supaya bisa dimakan. Minimal dibuka dulu plastiknya kalau mau dimakan tanpa direbus :)

Tahu saja tidak cukup, kita harus aplikasikan. Tekad saja tidak cukup, kita harus lakukan tindakan.

Untuk mencapai kesadaran yang dipraktekkan, yaitu ikhtiar yang dilakukan dengan ikhlas dan penuh kesadaran tertinggi yaitu kesadaran bahwa kita berTuhan, orang akan menempuh pengalaman dan waktu yang berbeda-beda. Tapi InsyaAllah akan tercapai ketika kita meniatkan dan melakukan upaya untuk mencapainya. Karena ketika kita sadar, maka kita sudah naik tingkat. Ketika kita sudah naik tingkat, maka semakin besar kesiapan yang kita miliki untuk menerima solusi. Solusi akan hadir ketika kita sudah siap untuk menerimanya. Tapi ketika kita masih senang berkeluh kesah, maka itu adalah indikasi bahwa kita belum siap untuk menerima solusi. Jadi, ketika kita belum melihat solusi, sadari dulu bahwa jika masalah tidak membuat kita mati, maka masalah akan membuat kita bertambah kuat dalam menjalani hidup ini. Kata kuncinya adalah "ikhlas menjalani" kenyataan yang terjadi, lakukan 100% tawakkal dan 100% ikhtiar untuk menggapai ridho Ilahi, lalu nantikan hadirnya solusi.

Knowing the truth is nothing
Awareness of the truth is something
Living the truth is everything...
(Steven Fu)


So, sambut dan jalani saja dulu masalahnya, dan jangan bosan bertanya pada Tuhan tentang apa yang harus kita lakukan. Karena Tuhan tak pernah bosan memberikan jawaban asalkan kita peka membaca petunjuk-Nya yang akan Ia munculkan terus berulang-ulang hingga kita menyadarinya.

Mohon maaf jika ada yang tidak berkenan. Tulisan ini juga nasehat untuk diri saya sendiri :)

Wallahualam

Wassalam
Goen

Lanjut Gan...
Horang Kayah

Suatu sore saya berkumpul dengan beberapa sahabat, ngobrol ngalor ngidul, dan akhirnya entah bagaimana awalnya topik pembicaraan jadi beralih ke masalah hutang piutang. Dua dari 5 orang yang hadir di sana mengungkapkan kekesalannya karena punya piutang yang belum dibayar juga, padahal sudah terlalu lama, nagihnya susah banget kata mereka.

Kemudian, saya memberikan pendapat dengan mengutip sebuah hadits yang isinya kurang lebih mengatakan bahwa jika seseorang meminjamkan uang pada orang lain, maka orang tersebut akan mendapat pahala sedekah setiap hari hingga piutangnya dilunasi atau dilunaskan.

Baru saja saya menyelesaikan kalimat, tiba-tiba teman saya yang seorang lagi langsung menyambung dengan nada tinggi, "KALAU IKHLAS!!"

Saya tidak membalas, saya memilih diam dan merenung..."Sebegitu sulitkah untuk ikhlas? Apakah orang tidak suka dengan pahala sehingga lebih memilih piutang dibayar daripada diberi pahala sedekah?" pikir saya.

Sudah banyak bukti ketika seseorang mampu mengikhlaskan piutangnya dalam arti dibayar syukur, ga dibayar berarti akan dapat yang lebih baik, maka rejekinya malah datang dari tempat yang lain, karena orang-orang seperti itu tidak mengandalkan piutangnya sebagai satu-satunya jalan rejeki meskipun mereka sedang kepepet juga.

Tentu saja piutang boleh ditagih, tetapi menurut saya sebaiknya jangan jadikan piutang sebagai sandaran, karena itu berarti kita melimitasi rejeki yang bisa datang dari berbagai arah.

Ikhlas memang tidak semudah kata-kata, tetapi sebenarnya bukan ikhlasnya yang sulit melainkan sikap sulitlah yang membuat kita tidak bisa ikhlas. Dan jika kita merasa sulit ikhlas tetapi ingin bisa ikhlas, maka niatkanlah untuk bisa ikhlas, pasti Tuhan memberikan jalan agar kita bisa ikhlas dengan sebenar-benarnya ikhlas.

Semoga kita senantiasa menjadi hamba-hamba-Nya yang ikhlas. Ikhlas pada saat sulit, tapi juga ikhlas untuk bahagia :)

Wallahualam

Lanjut Gan...
Horang Kayah

Saya baru sadar kalau sudah lama saya tidak menulis di blog ini. Ternyata saya lupa kalau saya punya blog :D

Yang mengingatkan saya untuk menulis kembali adalah sebuah buku bagus dari Kang Arul yang berjudul Writerpreneur. Di dalam buku itu disebutkan bahwa menulis adalah kemampuan yang membutuhkan maintenis...eh maintenance rutin. Karena seperti halnya skill yang lain, menulis pun adalah skill yang ketajamannya akan berkurang jika jarang diasah.

Tapi blog memang bukanlah satu-satunya tempat saya mengasah kemampuan menulis, karena saya juga kadang menulis di FB, dan baru-baru ini menyelesaikan sebuah naskah yang rencananya akan dibukukan. Ini juga salah satu hal yang membuat saya sibuk sehingga jarang menulis di blog.

Tadinya saya tidak mau menerbitkan buku apalagi buku bertema pengembangan diri. Bukan apa-apa, tanggungjawabnya berat, karena setiap kata yang ditulis mengemban beban moral, harus bisa saya buktikan dan saya jalankan sendiri, bukan sekedar omong doang. Saya pikir lebih baik menulis novel daripada buku pengembangan diri. Tapi atas dorongan beberapa temanlah saya berusaha mendobrak rasa ketidaknyamanan untuk menerbitkan buku.

Sebenarnya saya sudah menerbitkan buku dalam format ebook yang bisa dibeli di http://power-within.com. Tetapi seorang sahabat yang juga seorang penulis menyarankan saya untuk menulis buku cetak, dan dia mengusulkan agar ebook saya diterbitkan dalam format buku cetak saja. Tetapi saya memilih alternatif lain, ebook saya akan tetap menjadi ebook dan tak akan pernah diterbitkan dalam versi cetak. Jadi saya memutuskan untuk menulis sesuatu yang berbeda untuk versi cetak, meskipun beberapa poin memang ada yang diambil dari beberapa bab dalam ebook Power Within, tetapi secara keseluruhan sangat berbeda.

Tadinya saya ragu karena merasa bukan siapa-siapa, jadi kenapa saya harus menerbitkan buku? Tapi saya diingatkan bahwa tak perlu menjadi seorang ustad atau motivator untuk menerbitkan buku, kalau memang ada dorongan untuk itu, just do it! So, saya beranikan diri untuk mengirimkannya ke sebuah penerbitan, dan saat ini tengah menunggu kabar apakah buku saya layak diterbitkan atau tidak. Kalau bisa diterbitkan ya syukur, kalau tidak...ya cari penerbit lain yang mau menerbitkan :)

Di sisi lain, menulis buku juga adalah salah satu action yang saya lakukan untuk mengukur seberapa besar pencapaian yang telah saya dapatkan dari tahun ke tahun. Karena saya tidak mau hidup datar-datar saja, harus ada peningkatan dari hari ke hari. Syukur-syukur jika buku saya bisa terbit dan menambah ramai khazanah perpustakaan di bumi Nusantara.

Selama ini sudah ratusan buku yang saya baca. Terkadang saya kecewa ketika membaca buku yang judulnya bombastis tapi isinya biasa-biasa saja. Tetapi ketika kelepasan menilai sebuah buku sebagai biasa-biasa atau bahkan jelek, maka saya harus cepat-cepat Istighfar, karena menilai sebuah buku sebagai jelek sama saja dengan tidak menghargai hasil kerja keras sipenulis. Dalam arti yang lebih ekstrim lagi adalah menghina dan melecehkan karyanya.

Nah, kalau sudah begini, maka pertanyaan yang harus saya ajukan pada diri sendiri adalah...Kalau begitu kamu bisa bikin buku yang lebih bagus gak? Jangan bisanya ngomong doang, ngomentarin karya orang dan mengatakannya jelek, memangnya kamu punya karya yang diterbitkan?

DZIIGG!! Itu pertanyaan yang menonjok. Karena kita memang lebih mudah berkomentar tapi belum tentu bisa melakukan. Seperti halnya lebih mudah jadi penonton daripada jadi pemain. Seorang penonton bisa saja menyebut "Go block!" pada seorang pemain bola yang gagal mencetak gol padahal peluang sangat terbuka, tapi apa si penonton pasti bisa melakukannya jika dia berada di posisi si pemain? Belum tentu Gan. Bahkan main bola saja belum tentu bisa :)

So, daripada hanya menjadi penonton, maka saya memutuskan ikut bermain, agar tahu apa yang dirasakan pemain. Mungkin nanti akan banyak dukungan, tapi juga akan ada komentar yang tidak menyenangkan, mungkin akan ada penilaian negatif, atau mungkin akan ada yang meremehkan. Ya sudahlah, itu resiko, yang penting saya sudah take action. Dan seperti sebuah ungkapan yang pernah saya dengar entah di mana, "Ketika kau sukses, akan banyak musuh dan teman-teman palsu. Meskipun demikian tetaplah sukses!"

So, mari kita take action untuk meraih hidup yang lebih baik, dan raihlah sukses itu sesuai definisi kesuksesan masing-masing :)

Take action miracle happen, no action nothing happen!
(Tung Desem Waringin)

Lanjut Gan...
Horang Kayah

Tak terasa setahun berlalu begitu cepat. Menjelang akhir tahun, orang pun mulai membuat resolusi untuk tahun berikutnya, tentang hal-hal yang ingin mereka capai di tahun depan.

Tentunya ini hal yang sangat bagus, karena bagaimanapun juga hidup yang terencana jauh lebih baik dibandingkan hidup yang hanya 'ngalir' saja, dalam arti pasrah tanpa mau berbuat apa-apa.

Akan tetapi, resolusi hidup baru tidaklah untuk dibuat hanya pada akhir tahun atau awal tahun saja, karena perubahan itu terjadi setiap saat, karena perubahan adalah evolusi, dan evolusi tak akan terhenti hingga akhir masa nanti.

Artinya, setiap saat kita mesti peka dengan perubahan, setiap saat kita mesti membuat resolusi untuk bertransformasi, setiap saat kita mesti mengamati perilaku kita, sikap kita, perkataan kita, dan pikiran kita. Sudahkah lebih baik dari diri kita yang kemarin-kemarin? Ataukah sama saja? Atau lebih buruk lagi?

Banyak orang yang membuat resolusi dengan mendesain mimpi yang tinggi. Dan tak bisa dipungkiri kebanyakan cita-cita kesuksesan adalah pencapaian dalam soal materi. Tetapi sudahkah kita membuat resolusi untuk perbaikan dari dalam diri?

Sudahkah kita iringi resolusi pencapaian kesuksesan itu dengan permintaan agar dihindarkan dari kesombongan, rasa bangga yang berlebihan, dan semakin didekatkan dengan Tuhan?

Sebuah kesuksesan haruslah memiliki keseimbangan. Bukan hanya pencapaian secara material, tapi juga secara spiritual. Semoga kita dimudahkan mencapai hidup yang lebih baik, bukan hanya untuk kepentingan dunia, tapi juga untuk kebaikan di akhirat kelak.

Selamat membuat resolusi hidup baru :)

Lanjut Gan...
Horang Kayah

Saya yakin anda pasti familiar dengan lirik lagu dari sebuah grup musik ternama yang berbunyi, "Pernahkah kau merasa...hatimu hampa? Pernahkah kau merasa...hatimu kosong?"

Apa jawaban anda jika ditanya seperti itu?
Mungkin ada yang menjawab "Oh, pernah banget, dan saya tahu persis rasanya hati yang hampa..."

Hmmm...benarkah demikian? Karena kalau saya pribadi akan menjawab, "Tidak pernah..."

"Wah, hebat dong, berarti hidupnya selalu bahagia?"

Oh, bukan begitu maksud saya. Saya juga manusia biasa yang bisa merasa sedih, kecewa, terluka bahkan putus asa. Tapi hati saya tidak pernah hampa, karena memang tidak ada yang namanya hati yang hampa. Yang ada hanyalah hati yang terisi oleh perasaan negatif yang berupa rasa kesepian, sehingga diinterpretasikan sebagai 'hampa'.

Ya, ini sesuai dengan hukum ruang hampa yang mengatakan, "Alam semesta tidak menyukai kekosongan, segala sesuatu yang kosong pasti akan terisi."

Hukum energi mengatakan bahwa energi selalu mengalir ke tempat yang kosong. Dan seperti yang kita ketahui, perasaan pun adalah energi. Sehingga ketika perasaan positif tak hadir di hati, maka energi lain akan mengalir ke sana, yaitu energi negatif.

Coba saja tanyakan pada para ahli fisika kuantum, karena penelitian membuktikan bahwa di ruang yang paling hampa sekalipun masih tetap ada energi foton (cahaya). Jadi tidak ada yang benar-benar hampa. Bahkan jika ada ruang yang paling hampa dari semua kehampaan sekalipun, masih tetap ada Tuhan di sana.

So, tak ada yang namanya hati yang hampa, yang ada hanyalah interpretasi dari perasaan sepi yang mengisi hati.

Sesekali dalam hidup ini memang bisa terjadi saat-saat dimana kita sulit merasa bahagia. Tetapi meskipun demikian, tetaplah izinkan energi positif untuk mengalir ke tubuh dan jiwa kita. Dan jika kita sulit untuk melakukannya, maka mintalah Tuhan untuk mengangkatnya dan menggantinya dengan perasaan yang lebih bahagia.

Wallahualam

Lanjut Gan...
Horang Kayah

Tak terasa waktu berlalu dengan cepat. Sudah hari jumat lagi, padahal rasanya baru kemarin jumatan. Tak terasa tahun 2010 sudah mendekati ujungnya, padahal rasanya baru kemarin tahun baruan. Tak terasa usia sudah semakin tua, padahal rasanya baru kemarin lulus kuliah.

Sahabat, waktu kita sangat terbatas, kita tidak tahu sampai usia berapa kita akan berada di dunia. Kita tidak tahu kapan kita akan dipanggil oleh-Nya. Apakah yang sudah kita persiapkan untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatan kita selama di dunia?

Dalam skala besar, itu adalah hal penting yang harus kita pikirkan. Tapi untuk menuju ke sana, kita mulai dengan mempertanyakan, "Apakah seiring waktu yang telah berlalu, kita mengalami perubahan yang semakin baik? Atau sama saja? Atau lebih buruk?"

Sahabat, waktu kita sangat terbatas, jika kita tidak berubah sekarang juga, lalu kapan kita akan berubah?

Jika kita sadar bahwa kita harus berubah, lalu apa yang telah kita lakukan untuk menuju perubahan itu? Apakah hanya menunggu keajaiban datang? Tidak, kita harus mengambil tindakan untuk menjemput keajaiban itu sekarang juga.

Jika kita harus menunggu punya pasangan ideal dulu atau harus kaya dulu agar bisa bahagia, lalu kapan kekayaan dan pasangan ideal itu akan tiba? Adakah jaminan usia kita akan sampai untuk mendapatkannya?

Bahagia harus dimulai sekarang juga, kita tidak bisa mengubah keadaan di luar tanpa mengubah keadaan di dalam diri. Dan waktu kita sangat terbatas, jadi putuskanlah untuk berubah menjadi lebih baik, sekarang juga.

Wallahualam

Lanjut Gan...
Horang Kayah

Sebuah diskusi menarik terjadi antara saya dan seorang sahabat. Ketika itu kami membahas tentang afirmasi. Dan ternyata ada dua sudut pandang yang berbeda.

Yang pertama, dikatakan bahwa ketika kita mengalihkan fokus dengan afirmasi positif, misalnya dengan mengatakan, "Saya akan baik-baik saja, saya pasti bisa, saya luar biasa!" dll. Ternyata cara seperti ini cenderung menekan perasaan yang sebenarnya seperti takut, cemas, gelisah, dll. Sehingga efek penekanan tersebut akan memunculkan dua vibrasi yang berbeda. Yang pertama vibrasi positif, dan yang kedua vibrasi negatif. Mana yang lebih dominan, itulah yang akan menarik vibrasi yang sama. Dan banyak orang yang cenderung lebih kuat vibrasi negatifnya, sehingga afirmasi positifnya malah menarik kejadian yang negatif.

Sehingga solusinya adalah menyadari terlebih dahulu perasaan-perasaan negatif yang ada, biarkan mengalir sebagaimana hukum energi yang seharusnya mengalir, kemudian barulah kita isi dengan afirmasi positif.

Pendapat yang kedua adalah berdasarkan pepatah agama yang mengatakan, "Setiap kebaikan akan menghapus keburukan". Afirmasi positif tentunya bertujuan baik, karena itu tetap layak dilakukan jika ditujukan untuk mengikis pikiran negatif. Dan ketika repetisi afirmasi positif dilakukan terus menerus serta menjadi kebiasaan, maka tentunya lambat laun akan tertanam di pikiran bawah sadar sehingga menjadi kebiasaan yang baru, yaitu kebiasaan berpikir positif.

Mana yang lebih efektif? Saya hanya bisa bilang dua-duanya baik. Tapi mana yang lebih kita percayai itulah yang cenderung akan bekerja untuk kita. Karena sehebat apapun sebuah ilmu atau metode, akan tergantung pula dari kepercayaan penuh kita pada ilmu atau metode tersebut.

Wallahualam

Lanjut Gan...
Horang Kayah

Ada yang berbeda pada hari raya Idul Fitri tahun ini. Saya tidak bisa merayakannya bersama keluarga karena urusan kerja. Ini pertama kalinya terjadi dalam hidup saya setelah bertahun-tahun lamanya selalu lebaran bersama keluarga.

Well, memang terasa ada yang hilang, karena tahun ini untuk pertama kalinya pula saya tak bisa makan ketupat, meskipun penjual ketupat sayur ada di mana-mana. Tapi yang lebih terasa adalah karena tak bisa sholat Ied bersama-sama keluarga. Tak bisa dipungkiri, sedih memang. Tapi ada pelajaran berharga yang saya dapatkan, dan selalu ada yang bisa disyukuri karena semua kejadian tak ada yang sia-sia.

Pertama, untuk pertama kalinya saya Sholat Ied bersama orang-orang yang tidak saya kenal. Dan setelah selesai sholat, kami saling berjabatan tangan. Terasa sekali persaudaraan sesama muslim di sana. Bahkan saya bersalaman dengan para petugas polisi yang bertugas menjaga keamanan di sekitar tempat sholat. Rasanya menyenangkan bisa bersilaturahmi dengan orang-orang yang tidak saya kenal tapi terasa seperti saudara dekat.

Kedua, karena tempat sholat Ied ini bersebelahan dengan perumahan penduduk yang kurang mampu, baru kali ini saya menyaksikan ada orang-orang yang sholat Ied dengan baju seadanya. Mungkin karena tak bisa membeli baju baru atau cuma itu baju terbaik yang mereka punya. Bahkan ada yang tak punya sajadah, mereka sholat hanya beralaskan koran bekas. Melihat itu, saya jadi berpikir mungkin juga mereka tak punya ketupat untuk dimakan sehabis sholat. Trenyuh juga melihatnya, tapi di sisi lain mengingatkan saya untuk bersyukur karena masih punya baju yang bagus, dan hidup saya masih jauh lebih beruntung dibandingkan mereka.

Ketiga, berhubung saya tak bisa lebaran karena urusan pekerjaan, maka perusahaan membayarkan saya untuk tinggal sementara di sebuah kost mewah di wilayah yang berdekatan dengan gedung kantor tempat saya bekerja. Melihat fasilitasnya yang wah, maka saya tak heran begitu mengetahui berapa sewa kostan tersebut sebulannya. Tapi kalau mesti pakai uang sendiri, saya pasti akan pikir-pikir dulu untuk kost di sana. Karena biaya per bulannya sebanding dengan biaya untuk nyicil rumah sekaligus mobil. Tapi saya sangat bersyukur bisa menikmati fasilitas mewah tersebut karena membuat saya merasa sangat berkelimpahan, hehehe...norak deh :)

Intinya, pengalaman ini membuat saya mendapat kesempatan untuk merasakan kehidupan yang tidak seperti biasanya, sehingga saya jadi tahu apa rasanya tidak bisa berlebaran bersama keluarga, bahkan apa rasanya tak bisa makan ketupat di hari raya. Karena faktanya cukup banyak mereka yang tak bisa berlebaran dikarenakan harus bekerja demi negara atau melayani masyarakat sehingga tak bisa menikmati ketupat.

Terima kasih atas pengalaman istimewa ini Ya Tuhan, mudah-mudahan menjadikan Aku sebagai hamba-Mu yang selalu ingat untuk bersyukur pada-Mu :)

Dan kepada para sahabat yang suka mengunjungi blog saya, atas nama pribadi saya ucapkan selamat hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1431H, mohon maaf lahir batin atas segala kesalahan, terutama jika ada tulisan-tulisan yang tidak berkenan.

Wassalam
Goen
---
http://power-within.com
Facebook: Power Within

Lanjut Gan...
Horang Kayah

Judul di atas adalah judul dari sebuah lagu karya Black Eyed Peas, yang intinya adalah "Apakah anda omdo?" :)

Ya, banyak sekali orang yang pandai menasehati, mengajak pada kebaikan, bahkan mengatur kehidupan orang lain melalui saran-saran bijaknya. Akan tetapi berapa banyak dari mereka yang benar-benar menjalankan apa yang mereka ucapkan? Dan berapa banyak dari mereka yang pandai menasehati diri sendiri, atau mengatur diri sendiri?

"Ah, elu mah ngemeng doang!"
"Ngomong sih ngampang! Elu kan ga ngerasain apa yang gua alami!"

Easier said than done.

Memang harus diakui, lebih mudah mengatur dan menasehati orang lain daripada mengatur dan menasehati diri sendiri. Apalagi jika kita tidak pernah mengalaminya sendiri. Dengan kata lain, seringkali kita hanya "Omdo" alias ngomong doang.

Pepatah mengatakan, "Anda baru bisa disebut tahu jika anda menjalaninya, bukan cuma tahu tapi tidak dijalani. Bukan pernah membacanya, pernah mendengarnya, atau suka membicarakannya, tapi tidak pernah mengalaminya."

Akan tetapi, sebaiknya kita melihat kasus omdo ini dari dua sisi sebagai berikut:

1. Jika omdo tersebut niatnya adalah ingin diakui sebagai orang hebat, orang pintar, orang berilmu, orang bijak, dll, maka ini masuk kategori orang munafik. Tipe orang seperti ini bicara karena butuh penghargaan dan pengakuan dari orang lain. Orang seperti ini ibarat calo yang mengajak orang lain naik angkot atau bis, tapi dianya sendiri tidak ikut naik. Dan Tuhan tidak menyukai orang yang omdo.

2. Jika omdo tersebut niatnya adalah murni berbagi, sambil tetap mengakui bahwa kita sendiri pun masih dalam proses menuju ke sana, maka ini bagus, karena kita tidak mengaku-aku sebagai orang bijak atau orang suci yang bahagia 100% non stop. Tetapi kita menasehati karena didasari kewajiban untuk menyampaikan kebaikan walaupun hanya satu ayat.

Berarti boleh dong menyampaikan sesuatu yang kita belum pernah menjalankannya?

Boleh saja, kenapa tidak? Toh bisa jadi nanti Tuhan akan kasih jalan supaya kita menjalaninya, dan mempraktekkan apa yang selama ini sering kita nasehatkan pada orang lain.

Yang kedua, tidak mungkin semua orang punya pengalaman yang sama persis. Jadi boleh-boleh saja kita menasehatkan untuk sabar dan tabah pada orang yang terkena penyakit kanker, meskipun kita sendiri tidak pernah sakit kanker. Boleh saja kita sarankan obat-obatan tradisional untuknya meskipun kita sendiri hanya tahu lewat buku, internet atau pengalaman orang lain, dan belum pernah merasakan sendiri manjur tidaknya obat itu.

Dan yang ketiga, meskipun masalah di dunia ini hanya itu-itu saja, tetapi kadar atau porsi masalahnya berbeda-beda. Yang satu kena musibah hutang puluhan juta, tetapi yang lain kena musibah hutang milyaran rupiah. Dan itu memang sesuai dengan tingkat kekuatan mereka, karena tidak semua manusia sanggup dibebani porsi masalah yang sama. Jadi meskipun masalah kita tidak lebih berat daripada masalah orang lain, bukan berarti kita tidak boleh memberi saran dan nasehat pada orang yang punya masalah lebih berat dari kita.

Jangan salah persepsi dengan nasehat agama yang mengatakan "Tuhan tidak menyukai orang yang omdo", sehingga Anda jadi memilih untuk diam, tidak melakukan apapun, dan tidak berani menyampaikan kebaikan apapun. Sekali lagi, semua kembali pada niatnya, dan karena didasari oleh kewajiban untuk menyampaikan kebaikan.

Semoga kita dijaga dari sifat munafik dan tidak bicara serta menasehati karena butuh pengakuan dan penghargaan dari manusia.

Wallahualam

P.S.
Checkout my ebook Power Within Here

Lanjut Gan...
Horang Kayah

Dalam bukunya Secret of Millionaire Mind, T.Harv Eker menyebutkan, ada perbedaan tipis antara positive thinking dan power thinking.

Positive thinking adalah memikirkan hal-hal baik yang cenderung membuat kita berpura-pura seolah kita baik-baik saja meskipun sebenarnya sedang sengsara.

Sedangkan dalam power thinking, kita sadari dulu bahwa semua kejadian adalah netral, kitalah yang memberinya makna sebagai hal yang menyenangkan atau tidak. Karena itu dalam konsep power thinking, kita memutuskan untuk membuat cerita dengan makna yang baik.

Dengan kata lain, kita tahu dan sadar bahwa kita punya masalah, dan bahwa hal-hal baik yang kita pikirkan tidak sesuai dengan realita yang mengatakan bahwa kita menderita. Tetapi meskipun begitu kita tetap memilih untuk memikirkan kemungkinan baik karena itu jauh lebih memberdayakan daripada keluhan yang hanya melemahkan.

Dengan power thinking, kita membuat cerita yang memberdayakan dan memilih menggunakan kata-kata atau kalimat yang menguatkan kita, karena itu jauh lebih baik dan lebih berguna daripada pikiran dan kata-kata yang tidak mendukung pencapaian keinginan kita.

Memang tidak semua orang bisa menerima konsep yang mengatakan bahwa "Masalah adalah ilusi dan hanya terjadi dalam pikiran kita". Akan tetapi, kita tetap bisa memilih apa yang ingin kita pikirkan, yaitu berupa hal-hal yang kita inginkan. Dan selama keinginan itu baik, tidak didasari oleh nafsu ingin diakui atau ingin dihargai orang lain, InsyaAllah Tuhan akan mengabulkan.

Dengan Power thinking, bukan berarti masalah kita akan lenyap dalam seketika, tetapi kita menanamkan tekad dan keyakinan dalam diri bahwa harapan selalu ada, karena masalah hanya sementara, dan kita akan baik-baik saja serta bisa melewatinya, karena Tuhan tak akan menguji manusia melebihi batas kemampuannya.

Wallahualam

Wassalam
Goen

P.S.
Checkout my ebook Power Within Here

Lanjut Gan...
Horang Kayah


Setelah mengutak-atik script web dan bolak-balik bertanya sana-sini sehubungan banyaknya error yang terjadi, Alhamdulillah akhirnya problem selesai dan tidak ada error lagi. Untuk itu, dengan mengucap Bismillah, dengan ini saya launching ebook pertama saya yang berjudul "Power Within".

Apa yang saya sharing dalam ebook ini? Saya hanya ingin mengingatkan diri sendiri pada khususnya, dan para pembaca blog saya pada umumnya, bahwa tidak ada seorang manusia pun yang tidak memiliki masalah. Dan masalah bukanlah untuk dihindari, tapi untuk dihadapi. Tuhan menguji manusia sesuai kemampuannya masing-masing. Kita mendapat masalah, itu karena kita mampu menanggungnya, dan juga karena kita mampu mengatasinya. Untuk itu, sadarilah bahwa Anda sudah dipersenjatai Tuhan dengan kekuatan untuk menjalani kehidupan.


Mungkin Anda punya pengalaman seperti saya, mengalami musibah, ditimpa berbagai masalah, kemudian menghabiskan banyak biaya untuk membeli ratusan bahkan ribuan buku, ikut berbagai pelatihan pengembangan diri, terapi, diiringi dengan doa dan ibadah sehari-hari, tapi merasa tak kunjung melihat solusi. Apakah semua buku, pelatihan dan terapi itu tidak bermanfaat? Apakah doa-doa kita tidak dijawab meski kita memohon pada-Nya setiap hari?

FAKTA!

- Banyak orang yang mendapatkan solusi hanya dengan memanjatkan doa dan konsisten menjalankan ibadah sehari-hari.

- Banyak orang yang dengan izin Tuhan mendapatkan keajaiban setelah ikut sebuah pelatihan atau terapi.

- Banyak orang yang hidupnya berubah drastis menjadi lebih baik dalam waktu singkat hanya dengan modal sebuah tekad.

Tapi fakta juga membuktikan bahwa... tidak semua orang mendapatkan keajaiban dan solusi dalam waktu yang sama!

Selengkapnya? Langsung cekidot saja ke sini ya... :)


Lanjut Gan...
Horang Kayah

Salah satu cita-cita saya adalah menjadi penulis. Tentunya tidak selalu menulis gratis hehehe...Sebenarnya sudah lama sekali saya ingin menulis sebuah buku. Tetapi karena satu dan lain hal, selalu saja ada hambatan. Pernah saya menulis beberapa novel dan skenario film, tetapi meskipun sudah diajukan ke beberapa penerbit dan PH, selalu ditolak karena dianggap tidak trend. Jadi ya sudahlah, terbengkalailah naskah-naskah itu di komputer saya. Bahkan beberapa ada yang hilang karena terkena virus :(

Tetapi semangat untuk menulis tak pernah padam. Karena itu, saya memutuskan untuk menerbitkan sendiri buku saya. Tetapi sebagai permulaan, saya tidak akan menerbitkannya dalam bentuk cetak, melainkan dalam bentuk ebook.

Kenapa ebook? Karena menulis ebook editornya adalah penulis sendiri. Jadi saya bebas menuangkan kata-kata yang saya inginkan tanpa pengeditan dari pihak lain. Ebook juga tidak perlu biaya cetak, hanya perlu biaya hosting dan domain. Dan ebook bisa cepat didapatkan. Begitu dipesan melalui internet, begitu pembayaran telah diterima, maka tak lama kemudian ebook sudah bisa didownload.

Kenapa tidak dibagikan gratis saja? Well, saya harus memberanikan diri untuk memulai karir sebagai penulis. Yang kedua, supaya ada pertukaran energi. Penulis menjual, pembeli membayar. Ada sirkulasi energi uang di sana, ada hukum "take and give" atau hukum timbal balik di sana. Ketika pembeli membayar, maka hukum timbal balik berlaku. Energi uang yang dikeluarkan oleh pembeli akan bersirkulasi dan kembali pada si pembeli dalam bentuk kebaikan apapun.

Tenang, saya tidak akan menjual mahal. Meskipun banyak ebook pengembangan diri yang harganya ratusan ribu rupiah, tetapi saya janji, harga ebook saya tidak akan mencapai Rp.100 ribu. Dan meskipun nanti ebook sudah terbit, saya tetap akan menulis di blog untuk berbagi hal-hal yang saya pelajari.

Kapan terbitnya? Sabar ya, saat ini webnya sedang dalam persiapan. Saya harus pastikan webnya tidak error, terutama ketika transaksi terjadi.

Lalu ebook apa yang akan saya jual?

Inilah preview covernya.



Tentang apa?

Nantikan kabar selanjutnya di blog ini ya ;)

Lanjut Gan...
Horang Kayah

Tak terasa tahun ini kita sudah memasuki bulan puasa lagi, padahal perasaan baru kemarin lebaran :) Untuk itu, saya ucapkan mohon maaf lahir batin pada teman-teman yang mengunjungi blog saya. Karena sangat mungkin saya melakukan kesalahan meskipun hanya melalui kata-kata dalam tulisan.

Bicara tentang puasa, sebenarnya puasa adalah momen yang sangat tepat untuk meningkatkan vibrasi yang menarik hal-hal baik. Orang yang mempraktekkan Law of Attraction (LOA) pasti paham betul, bahwa kita harus berkata baik, berpikir baik, dan berlaku baik agar menarik banyak kebaikan dan kemudahan. Ironisnya, kemarin-kemarin saya tidak menyadari bahwa semua itu sebenarnya sudah ada dalam ajaran agama. Dan saya baru mulai menjalankannya ketika saya berkenalan dengan LOA. Padahal LOA hanyalah kepingan kecil dari ajaran agama. Karena masih banyak lagi kebaikan dalam agama yang tidak tercover oleh LOA.

Selama bulan puasa, kita diwajibkan menahan diri dari hawa nafsu, yang sebenarnya tidak hanya berlaku di bulan puasa melainkan juga di bulan-bulan lain selain puasa. Selain menahan lapar dan haus, menahan diri dari pikiran, perbuatan, dan perkataan yang tidak baik, kita juga biasanya meningkatkan ritual-ritual ibadah lain seperti Shalat Tarawih, membaca Quran, mengikuti pengajian, membaca buku-buku agama, dll.

Ketika kita melakukannya dengan sepenuh hati, maka kita akan berada dalam kondisi vibrasi yang sangat tinggi. Dan karena kita memancarkan vibrasi tinggi yang baik, maka jangan heran jika doa-doa di bulan Ramadhan lebih mudah terkabul. Karena itu alangkah baiknya jika kita tetap pertahankan kondisi seperti itu meskipun Ramadhan telah berakhir.

Seandainya banyak orang yang menyadari hal ini, niscaya mereka akan berpuasa dengan hati gembira. Karena selain mendapatkan kebaikan di dunia, mereka pun akan mendapatkan kebaikan di akhirat kelak. Apalagi jika ibadah kita ditujukan bukan untuk sekedar kebahagiaan di dunia, tapi karena ingin mendapatkan ridho-Nya sehingga kebahagiaan di akhirat pun kita dapatkan.

Kita memang harus mengutamakan akhirat daripada dunia, tetapi meskipun demikian jangan sampai melupakan dunia, sebab dunia adalah jembatan kita menuju kehidupan akhirat. Dan ketika kita mengutamakan akhirat, maka sesuai janji Tuhan, dunia pun akan kita dapatkan.

Semoga kita termasuk dalam golongan orang-orang yang bersukacita menjalankan ibadah puasa. Dan tetap konsisten menjaga sikap, kata, pikiran dan perbuatan, agar tetap bervibrasi tinggi, sehingga memudahkan kehidupan kita di dunia serta di akhirat.

Wallahualam

Lanjut Gan...
Horang Kayah

Pernahkah anda begitu menginginkan sesuatu tetapi ternyata anda tidak mendapatkannya? Dan pernahkah anda sangat membenci sesuatu tetapi ternyata anda malah sering menemui hal-hal yang anda benci?

Yup, itulah anehnya hidup ini. Semakin kita menginginkan sesuatu, malah semakin sulit mendapatkannya. Semakin menolak kita terhadap sesuatu, yang terjadi kita malah makin sering menghadapi hal yang kita tolak tersebut.

Sesuatu yang kita kejar biasanya malah makin menjauh. Apakah itu mengejar-ngejar seseorang yang ingin kita jadikan pasangan, atau mengejar-ngejar uang. Buntut-buntutnya cuma kelelahan, tapi tidak mendapatkan apa yang kita inginkan. Maka tidak heran jika ada lagu yang syairnya berbunyi, "Makin kukejar, makin kau jauh.." :D

Itulah hukum paradoks yang berlaku terhadap sebuah keinginan. Semakin ngotot kita menginginkan sesuatu, makin sulit kita mendapatkannya, walaupun bukan berarti mustahil mendapatkannya. Tapi kemungkinan besar prosesnya jadi sulit dan berdarah-darah.

Karena itu dalam sebuah diskusi, seorang sahabat pernah mengusulkan bagaimana kalau niatnya dibalik saja? Misalnya dia bilang daripada mengafirmasikan, "Saya kaya," lebih baik coba afirmasi "Saya tidak mau jadi kaya".

Hmm...kalau ditinjau dari sudut pandang pikiran bawah sadar, bisa saja sih. Soalnya pikiran bawah sadar kan tidak mengenal kata "tidak" dan "jangan". Jadi kalimat di atas bisa saja akan terprogram sebagai "Saya mau kaya".

Tetapi, siapa bilang pikiran bawah sadar selalu tidak mengenal kata "tidak" dan "jangan"? Anak kecil awalnya kalau dibilang "jangan", memang selalu tidak paham. Tapi lama kelamaan mereka mengerti juga dengan kata larangan tersebut. So, hal itu juga berlaku untuk pikiran bawah sadar. Jadi kalau untuk saya sih, menggunakan afirmasi "Saya tidak mau kaya", lama-kelamaan dikhawatirkan malah memperkuat niat untuk tidak jadi kaya.

Jadi gimana dong solusinya?

Menurut saya, solusinya satu saja, sama seperti yang sering diajarkan oleh para guru-guru pengembangan diri, yaitu..."Jangan ngotot pada hasilnya". Biarkan Tuhan yang mengaturnya untuk terwujud pada saat yang paling tepat dan dalam bentuk yang paling indah sesuai kehendak-Nya.

Punya keinginan jelas harus. Jadi nyatakan saja keinginan itu baik secara tertulis ataupun diafirmasikan secara lisan. Dan cukup disadari bahwa semua sebenarnya sudah kita miliki. Kita cuma perlu menjemputnya saja pada saat yang tepat dan paling indah. Dan yang paling penting, kita akan menerimanya ketika kita memang sudah siap untuk menerimanya.

Jadi, tetaplah miliki keinginan, lakukan tindakan yang diperlukan, pasrahkan pada Tuhan, lalu siapkan diri untuk menerima apapun yang akan Dia berikan :)

Wallahualam

Lanjut Gan...
Horang Kayah

Pernahkah Anda ikut pelatihan motivasi dan berbagai ilmu pengembangan diri, lalu anda merasa semangat, tapi ternyata cuma sesaat? Karena tak lama kemudian, Anda kembali terperangkap dalam pikiran dan perasaan negatif, dan tak kunjung mendapatkan perubahan signifikan. Semua yang anda cita-citakan seolah terasa jauh, dan tak mungkin tercapai.

Atau Anda sudah take action, menjalankan semua ide yang Anda dapatkan untuk mencapai kesuksesan, tapi beberapa saat kemudian semangat Anda pudar, Anda pun mulai menunda-nunda hal yang seharusnya Anda kerjakan, dan akhirnya...proyek pun gagal.

Hal yang sama sering terjadi pada saya, ketika saya ingin menulis sebuah buku, sedangkan pihak penerbit sudah ada yang siap menerima, baru beberapa saat saya kok merasa malas ya menulisnya. Dan akhirnya proyek buku itu pun terhenti di tengah jalan.

Ketika mempelajari dan menelusuri faktor-faktor penghambat kesuksesan, saya menemukan beberapa fakta tentang kenapa orang suka menunda tindakan, atau kenapa semangat hanya sesaat.

Yang paling mengena adalah fakta-fakta yang mengatakan bahwa ketika pikiran sadar dan bawah sadar tidak sejalan, alias ada program penghambat di pikiran bawah sadar, alias ada mental blok, atau belief yang tidak mendukung, maka kesuksesan akan sulit didapat. Dan kebanyakan dari metode tersebut berfokus pada pembersihan program negatif dari masa lalu, yang salah satunya bisa berupa kejadian traumatik yang menjadikan seseorang tidak mau sukses di masa dewasanya, meskipun secara sadar dia menyatakan ingin sukses.

Setelah menelusuri diri sendiri, saya tidak menemukan program traumatik yang menghambat, tapi ternyata...saya menemukan bahwa saya takut terkenal :)

Kalau saya menulis buku, nanti banyak orang yang baca buku saya, otomatis saya jadi terkenal, nanti saya harus jaga sikap sebagai penulis, nanti saya kehilangan privasi, karena kemana-mana selalu ada penggemar mengerubuti, cieee...ga segitunya kalee...emangnya selebriti :D

Ya, saya harus taklukkan dulu rasa takut terkenal ini, lagipula belum tentu saya akan terkenal toh? Udah ge-er duluan aja nih hehehe...

Lagipula AA Gym juga pernah berpesan, "Sukses tidak diukur dari materi, jabatan, ataupun popularitas. Tapi sukses adalah menjadi orang yang bermanfaat bagi orang banyak, dan menjadi suri tauladan bagi yang lain".

Baiklah AA, tapi kan...ah sudahlah... :)

Bicara soal penghambat kesuksesan, ada satu hal lagi yang mungkin jarang atau lupa kita perhatikan. Apa itu?

"Godaan setan!"

Yup, ketika belajar ilmu pengembangan diri dan ilmu spiritual universal, kadang saya lupa dengan mahluk yang satu ini yang tugasnya memang mengganggu manusia. Dan dia tidak senang melihat kita sukses, apalagi jika kesuksesan itu akan semakin mendekatkan kita dengan Tuhan.

Kita kadang lupa bahwa salah satu sumber energi negatif pun berasal dari si setan ini. Setan selalu membisikkan agar kita santai saja, tidak usah buru-buru mencapai kesuksesan, masih ada waktu katanya. Setan juga suka kalau kita malas-malasan.

So, ada baiknya jika kita tidak hanya merelease energi negatif dengan metode-metode terapi dan ilmu pengembangan diri, tetapi juga meminta perlindungan dari Tuhan agar dilindungi dari godaan setan yang ingin menghambat kita mencapai kesuksesan sejati, yaitu kesuksesan yang semakin mendekatkan kita pada Tuhan.

Wallahualam

Lanjut Gan...