Saya yakin anda pasti familiar dengan lirik lagu dari sebuah grup musik ternama yang berbunyi, "Pernahkah kau merasa...hatimu hampa? Pernahkah kau merasa...hatimu kosong?"
Apa jawaban anda jika ditanya seperti itu?
Mungkin ada yang menjawab "Oh, pernah banget, dan saya tahu persis rasanya hati yang hampa..."
Hmmm...benarkah demikian? Karena kalau saya pribadi akan menjawab, "Tidak pernah..."
"Wah, hebat dong, berarti hidupnya selalu bahagia?"
Oh, bukan begitu maksud saya. Saya juga manusia biasa yang bisa merasa sedih, kecewa, terluka bahkan putus asa. Tapi hati saya tidak pernah hampa, karena memang tidak ada yang namanya hati yang hampa. Yang ada hanyalah hati yang terisi oleh perasaan negatif yang berupa rasa kesepian, sehingga diinterpretasikan sebagai 'hampa'.
Ya, ini sesuai dengan hukum ruang hampa yang mengatakan, "Alam semesta tidak menyukai kekosongan, segala sesuatu yang kosong pasti akan terisi."
Hukum energi mengatakan bahwa energi selalu mengalir ke tempat yang kosong. Dan seperti yang kita ketahui, perasaan pun adalah energi. Sehingga ketika perasaan positif tak hadir di hati, maka energi lain akan mengalir ke sana, yaitu energi negatif.
Coba saja tanyakan pada para ahli fisika kuantum, karena penelitian membuktikan bahwa di ruang yang paling hampa sekalipun masih tetap ada energi foton (cahaya). Jadi tidak ada yang benar-benar hampa. Bahkan jika ada ruang yang paling hampa dari semua kehampaan sekalipun, masih tetap ada Tuhan di sana.
So, tak ada yang namanya hati yang hampa, yang ada hanyalah interpretasi dari perasaan sepi yang mengisi hati.
Sesekali dalam hidup ini memang bisa terjadi saat-saat dimana kita sulit merasa bahagia. Tetapi meskipun demikian, tetaplah izinkan energi positif untuk mengalir ke tubuh dan jiwa kita. Dan jika kita sulit untuk melakukannya, maka mintalah Tuhan untuk mengangkatnya dan menggantinya dengan perasaan yang lebih bahagia.
Wallahualam
Sebuah diskusi menarik terjadi antara saya dan seorang sahabat. Ketika itu kami membahas tentang afirmasi. Dan ternyata ada dua sudut pandang yang berbeda.
Yang pertama, dikatakan bahwa ketika kita mengalihkan fokus dengan afirmasi positif, misalnya dengan mengatakan, "Saya akan baik-baik saja, saya pasti bisa, saya luar biasa!" dll. Ternyata cara seperti ini cenderung menekan perasaan yang sebenarnya seperti takut, cemas, gelisah, dll. Sehingga efek penekanan tersebut akan memunculkan dua vibrasi yang berbeda. Yang pertama vibrasi positif, dan yang kedua vibrasi negatif. Mana yang lebih dominan, itulah yang akan menarik vibrasi yang sama. Dan banyak orang yang cenderung lebih kuat vibrasi negatifnya, sehingga afirmasi positifnya malah menarik kejadian yang negatif.
Sehingga solusinya adalah menyadari terlebih dahulu perasaan-perasaan negatif yang ada, biarkan mengalir sebagaimana hukum energi yang seharusnya mengalir, kemudian barulah kita isi dengan afirmasi positif.
Pendapat yang kedua adalah berdasarkan pepatah agama yang mengatakan, "Setiap kebaikan akan menghapus keburukan". Afirmasi positif tentunya bertujuan baik, karena itu tetap layak dilakukan jika ditujukan untuk mengikis pikiran negatif. Dan ketika repetisi afirmasi positif dilakukan terus menerus serta menjadi kebiasaan, maka tentunya lambat laun akan tertanam di pikiran bawah sadar sehingga menjadi kebiasaan yang baru, yaitu kebiasaan berpikir positif.
Mana yang lebih efektif? Saya hanya bisa bilang dua-duanya baik. Tapi mana yang lebih kita percayai itulah yang cenderung akan bekerja untuk kita. Karena sehebat apapun sebuah ilmu atau metode, akan tergantung pula dari kepercayaan penuh kita pada ilmu atau metode tersebut.
Wallahualam
Dalam bukunya Secret of Millionaire Mind, T.Harv Eker menyebutkan, ada perbedaan tipis antara positive thinking dan power thinking.
Positive thinking adalah memikirkan hal-hal baik yang cenderung membuat kita berpura-pura seolah kita baik-baik saja meskipun sebenarnya sedang sengsara.
Sedangkan dalam power thinking, kita sadari dulu bahwa semua kejadian adalah netral, kitalah yang memberinya makna sebagai hal yang menyenangkan atau tidak. Karena itu dalam konsep power thinking, kita memutuskan untuk membuat cerita dengan makna yang baik.
Dengan kata lain, kita tahu dan sadar bahwa kita punya masalah, dan bahwa hal-hal baik yang kita pikirkan tidak sesuai dengan realita yang mengatakan bahwa kita menderita. Tetapi meskipun begitu kita tetap memilih untuk memikirkan kemungkinan baik karena itu jauh lebih memberdayakan daripada keluhan yang hanya melemahkan.
Dengan power thinking, kita membuat cerita yang memberdayakan dan memilih menggunakan kata-kata atau kalimat yang menguatkan kita, karena itu jauh lebih baik dan lebih berguna daripada pikiran dan kata-kata yang tidak mendukung pencapaian keinginan kita.
Memang tidak semua orang bisa menerima konsep yang mengatakan bahwa "Masalah adalah ilusi dan hanya terjadi dalam pikiran kita". Akan tetapi, kita tetap bisa memilih apa yang ingin kita pikirkan, yaitu berupa hal-hal yang kita inginkan. Dan selama keinginan itu baik, tidak didasari oleh nafsu ingin diakui atau ingin dihargai orang lain, InsyaAllah Tuhan akan mengabulkan.
Dengan Power thinking, bukan berarti masalah kita akan lenyap dalam seketika, tetapi kita menanamkan tekad dan keyakinan dalam diri bahwa harapan selalu ada, karena masalah hanya sementara, dan kita akan baik-baik saja serta bisa melewatinya, karena Tuhan tak akan menguji manusia melebihi batas kemampuannya.
Wallahualam
Wassalam
Goen
P.S.
Checkout my ebook Power Within Here

Setelah mengutak-atik script web dan bolak-balik bertanya sana-sini sehubungan banyaknya error yang terjadi, Alhamdulillah akhirnya problem selesai dan tidak ada error lagi. Untuk itu, dengan mengucap Bismillah, dengan ini saya launching ebook pertama saya yang berjudul "Power Within".
Apa yang saya sharing dalam ebook ini? Saya hanya ingin mengingatkan diri sendiri pada khususnya, dan para pembaca blog saya pada umumnya, bahwa tidak ada seorang manusia pun yang tidak memiliki masalah. Dan masalah bukanlah untuk dihindari, tapi untuk dihadapi. Tuhan menguji manusia sesuai kemampuannya masing-masing. Kita mendapat masalah, itu karena kita mampu menanggungnya, dan juga karena kita mampu mengatasinya. Untuk itu, sadarilah bahwa Anda sudah dipersenjatai Tuhan dengan kekuatan untuk menjalani kehidupan.
Mungkin Anda punya pengalaman seperti saya, mengalami musibah, ditimpa berbagai masalah, kemudian menghabiskan banyak biaya untuk membeli ratusan bahkan ribuan buku, ikut berbagai pelatihan pengembangan diri, terapi, diiringi dengan doa dan ibadah sehari-hari, tapi merasa tak kunjung melihat solusi. Apakah semua buku, pelatihan dan terapi itu tidak bermanfaat? Apakah doa-doa kita tidak dijawab meski kita memohon pada-Nya setiap hari?
FAKTA!
- Banyak orang yang mendapatkan solusi hanya dengan memanjatkan doa dan konsisten menjalankan ibadah sehari-hari.
- Banyak orang yang dengan izin Tuhan mendapatkan keajaiban setelah ikut sebuah pelatihan atau terapi.
- Banyak orang yang hidupnya berubah drastis menjadi lebih baik dalam waktu singkat hanya dengan modal sebuah tekad.
Tapi fakta juga membuktikan bahwa... tidak semua orang mendapatkan keajaiban dan solusi dalam waktu yang sama!
Selengkapnya? Langsung cekidot saja ke sini ya... :)
Salah satu cita-cita saya adalah menjadi penulis. Tentunya tidak selalu menulis gratis hehehe...Sebenarnya sudah lama sekali saya ingin menulis sebuah buku. Tetapi karena satu dan lain hal, selalu saja ada hambatan. Pernah saya menulis beberapa novel dan skenario film, tetapi meskipun sudah diajukan ke beberapa penerbit dan PH, selalu ditolak karena dianggap tidak trend. Jadi ya sudahlah, terbengkalailah naskah-naskah itu di komputer saya. Bahkan beberapa ada yang hilang karena terkena virus :(
Tetapi semangat untuk menulis tak pernah padam. Karena itu, saya memutuskan untuk menerbitkan sendiri buku saya. Tetapi sebagai permulaan, saya tidak akan menerbitkannya dalam bentuk cetak, melainkan dalam bentuk ebook.
Kenapa ebook? Karena menulis ebook editornya adalah penulis sendiri. Jadi saya bebas menuangkan kata-kata yang saya inginkan tanpa pengeditan dari pihak lain. Ebook juga tidak perlu biaya cetak, hanya perlu biaya hosting dan domain. Dan ebook bisa cepat didapatkan. Begitu dipesan melalui internet, begitu pembayaran telah diterima, maka tak lama kemudian ebook sudah bisa didownload.
Kenapa tidak dibagikan gratis saja? Well, saya harus memberanikan diri untuk memulai karir sebagai penulis. Yang kedua, supaya ada pertukaran energi. Penulis menjual, pembeli membayar. Ada sirkulasi energi uang di sana, ada hukum "take and give" atau hukum timbal balik di sana. Ketika pembeli membayar, maka hukum timbal balik berlaku. Energi uang yang dikeluarkan oleh pembeli akan bersirkulasi dan kembali pada si pembeli dalam bentuk kebaikan apapun.
Tenang, saya tidak akan menjual mahal. Meskipun banyak ebook pengembangan diri yang harganya ratusan ribu rupiah, tetapi saya janji, harga ebook saya tidak akan mencapai Rp.100 ribu. Dan meskipun nanti ebook sudah terbit, saya tetap akan menulis di blog untuk berbagi hal-hal yang saya pelajari.
Kapan terbitnya? Sabar ya, saat ini webnya sedang dalam persiapan. Saya harus pastikan webnya tidak error, terutama ketika transaksi terjadi.
Lalu ebook apa yang akan saya jual?
Inilah preview covernya.
Tentang apa?
Nantikan kabar selanjutnya di blog ini ya ;)
Pernahkah Anda ikut pelatihan motivasi dan berbagai ilmu pengembangan diri, lalu anda merasa semangat, tapi ternyata cuma sesaat? Karena tak lama kemudian, Anda kembali terperangkap dalam pikiran dan perasaan negatif, dan tak kunjung mendapatkan perubahan signifikan. Semua yang anda cita-citakan seolah terasa jauh, dan tak mungkin tercapai.
Atau Anda sudah take action, menjalankan semua ide yang Anda dapatkan untuk mencapai kesuksesan, tapi beberapa saat kemudian semangat Anda pudar, Anda pun mulai menunda-nunda hal yang seharusnya Anda kerjakan, dan akhirnya...proyek pun gagal.
Hal yang sama sering terjadi pada saya, ketika saya ingin menulis sebuah buku, sedangkan pihak penerbit sudah ada yang siap menerima, baru beberapa saat saya kok merasa malas ya menulisnya. Dan akhirnya proyek buku itu pun terhenti di tengah jalan.
Ketika mempelajari dan menelusuri faktor-faktor penghambat kesuksesan, saya menemukan beberapa fakta tentang kenapa orang suka menunda tindakan, atau kenapa semangat hanya sesaat.
Yang paling mengena adalah fakta-fakta yang mengatakan bahwa ketika pikiran sadar dan bawah sadar tidak sejalan, alias ada program penghambat di pikiran bawah sadar, alias ada mental blok, atau belief yang tidak mendukung, maka kesuksesan akan sulit didapat. Dan kebanyakan dari metode tersebut berfokus pada pembersihan program negatif dari masa lalu, yang salah satunya bisa berupa kejadian traumatik yang menjadikan seseorang tidak mau sukses di masa dewasanya, meskipun secara sadar dia menyatakan ingin sukses.
Setelah menelusuri diri sendiri, saya tidak menemukan program traumatik yang menghambat, tapi ternyata...saya menemukan bahwa saya takut terkenal :)
Kalau saya menulis buku, nanti banyak orang yang baca buku saya, otomatis saya jadi terkenal, nanti saya harus jaga sikap sebagai penulis, nanti saya kehilangan privasi, karena kemana-mana selalu ada penggemar mengerubuti, cieee...ga segitunya kalee...emangnya selebriti :D
Ya, saya harus taklukkan dulu rasa takut terkenal ini, lagipula belum tentu saya akan terkenal toh? Udah ge-er duluan aja nih hehehe...
Lagipula AA Gym juga pernah berpesan, "Sukses tidak diukur dari materi, jabatan, ataupun popularitas. Tapi sukses adalah menjadi orang yang bermanfaat bagi orang banyak, dan menjadi suri tauladan bagi yang lain".
Baiklah AA, tapi kan...ah sudahlah... :)
Bicara soal penghambat kesuksesan, ada satu hal lagi yang mungkin jarang atau lupa kita perhatikan. Apa itu?
"Godaan setan!"
Yup, ketika belajar ilmu pengembangan diri dan ilmu spiritual universal, kadang saya lupa dengan mahluk yang satu ini yang tugasnya memang mengganggu manusia. Dan dia tidak senang melihat kita sukses, apalagi jika kesuksesan itu akan semakin mendekatkan kita dengan Tuhan.
Kita kadang lupa bahwa salah satu sumber energi negatif pun berasal dari si setan ini. Setan selalu membisikkan agar kita santai saja, tidak usah buru-buru mencapai kesuksesan, masih ada waktu katanya. Setan juga suka kalau kita malas-malasan.
So, ada baiknya jika kita tidak hanya merelease energi negatif dengan metode-metode terapi dan ilmu pengembangan diri, tetapi juga meminta perlindungan dari Tuhan agar dilindungi dari godaan setan yang ingin menghambat kita mencapai kesuksesan sejati, yaitu kesuksesan yang semakin mendekatkan kita pada Tuhan.
Wallahualam
Nasehat klasik yang sering diberikan pada orang yang sedang tertimpa musibah atau masalah, biasanya adalah, "Tabah ya, pasti ada hikmahnya..."
Ada juga yang menasehatkan, "Carilah hal yang bisa disyukuri dari masalah tersebut."
Tetapi, tidak semua orang mampu mencerna nasehat-nasehat bijak ini. Apalagi jika sedang dalam keadaan terdesak. Coba saja katakan "Masalah itu cuma ilusi," atau "Masalah itu cuma persepsi," pada seorang ibu atau ayah yang sedang panik karena butuh uang untuk biaya perawatan anaknya yang sedang sakit parah. Atau katakanlah itu pada orang-orang miskin yang kelaparan, bisa-bisa Anda diamuk massa :)
Meskipun demikian, Agama telah mengajarkan kita metode untuk menghadapi situasi sulit. Dan yang paling sering kita dengar adalah metode "Syukur".
Ya, metode syukur mengajari kita untuk tidak berfokus pada masalah, melainkan pada kenikmatan-kenikmatan lain yang tidak terbantahkan.
Dalam beberapa pelatihan pengembangan diri, sering saya menemukan tes pertanyaan bagi para peserta. Sang trainer memperlihatkan sebuah kertas yang putih bersih. Ketika ditanyakan pada peserta, "Ini apa?" Semua menjawab "Itu kertas". Tetapi ketika sang trainer menggambar titik di atas kertas tersebut dan bertanya lagi, "Ini apa?" Maka kebanyakan peserta menjawab "Titik hitam".
Padahal, ketika kita mampu membaca dengan pandangan yang lebih luas, maka jawaban kita pastilah tetap "Kertas putih", cuma kali ini ada titik hitamnya.
Yup, dalam kehidupanpun kita seringkali berfokus pada setitik penderitaan di atas luasnya hamparan kasih sayang Tuhan.
Ketika seseorang mengeluhkan bagian tubuhnya yang sakit, dia lupa bahwa masih banyak anggota tubuh lainnya yang masih sehat.
Ketika seseorang mengeluhkan tentang kekurangan uang, dia lupa bahwa sebenarnya banyak hal yang dia miliki yang uangpun tak akan bisa membelinya.
Ketika seseorang merasa kesepian karena butuh kasih sayang dan belum punya pasangan, dia lupa kalau dia punya orang tua, adik, kakak, dan sahabat-sahabat baik yang menyayanginya.
Ketika seseorang mengeluhkan pasangannya yang cerewet, dia jadi lupa bahwa dia masih jauh lebih beruntung dibandingkan mereka yang bertahun-tahun berdoa siang malam minta diberikan pasangan hidup.
Ketika seseorang mengeluhkan kecilnya gaji di perusahaan tempat dia bekerja, dia lupa bahwa dia masih punya penghasilan, sedangkan di luar sana masih banyak para sarjana yang sangat mendambakan pekerjaan, bahkan ada yang terpaksa jadi kuli daripada tidak bekerja sama sekali.
Bukannya mensyukuri, kebanyakan orang malah memperbesar keluhannya. Walhasil, tidak tercukupi pula kebutuhannya karena apa yang mereka fokuskan adalah penderitaan.
Rasa syukur tidak hanya berlaku bagi mereka yang sedang diuji dengan kesenangan, tetapi juga tetap berlaku bagi mereka yang sedang ditimpa musibah atau kemalangan.
Ketika kita mampu bersyukur di tengah masalah dan berfokus pada kenikmatan lain yang telah dan sedang kita miliki, maka Insya'Allah akan lebih besar lagi rasa syukur kita ketika kesenangan tiba, karena kita sudah terlatih untuk selalu bersyukur dalam situasi sulit.
Setelah itu kita tinggal mempertahankannya supaya kita menjadi hamba-hamba-Nya yang selalu mampu bersyukur dalam situasi apapun, syukur yang benar-benar syukur dan bukan sekedar memaksakan diri bersyukur karena ada maunya saja, tapi ketika kesenangan tiba malah jadi lupa. Semoga kita terhindar dari rasa syukur yang terpaksa dan hanya sementara.
Wallahualam
Wow, ternyata sudah lama saya tidak menulis di blog ini karena kesibukan yang terus mengalir. Dan 90% dari kegiatan tersebut adalah seputar pergerakan Team Emotional Healing. Yup, banyak hal yang harus kami kerjakan, mulai dari membenahi diri, merancang sistem baru dan menambah ilmu agar mampu mempersembahkan yang terbaik bagi para peserta dalam setiap event.
Ngomong-ngomong tentang sibuk, saya teringat dua tahun lalu saya punya signature email yang merupakan afirmasi yang tidak baik. Karena signature yang berada pada footer email saya bunyinya adalah, "So little time too much to do".
Waktu itu saya memakai signature tersebut karena merasa saya sibuk sekali, kerja keras tanpa henti. Sudah mah kerja di kantor seharian, pulangnya masih harus melakukan kerja sambilan demi memenuhi kebutuhan hidup dan membayar tumpukan hutang yang jumlahnya mencapai ratusan juta rupiah. Akibatnya saya stress, kurang istirahat, kurang tidur, lelah, letih, lesu, lemah, kurang gairah, halah... :D
Saya merasa terpenjara, merasa tak punya waktu untuk santai, tak punya waktu untuk mengerjakan hobi dan hal-hal lain yang menyenangkan, tiap hari hanya keluhan yang terpikirkan, karena seberapa keraspun saya bekerja, kebutuhan tak kunjung terpenuhi, hutang malah makin bertumpuk, masalah terus datang silih berganti, capek rasanya hingga sering saya bertanya kapan semua ini akan berakhir. Padahal mestinya waktu itu saya bersyukur karena masih punya pekerjaan, sehingga bisa mencicil hutang-hutang, dan masih bisa makan.
Keluhan adalah hal yang paling sering muncul di tengah kesibukan, terutama pekerjaan. Banyak orang tidak puas dengan pekerjaannya, tapi tetap saja bekerja di sana. Banyak orang ingin santai, tapi begitu banyak waktu untuk santai malah kebingungan, bete, bosan. Jadi maunya apa? :D
Di satu sisi, kesibukan kadang terasa tidak menyenangkan, tapi di sisi yang lain, kesibukan sebenarnya sesuai dengan hukum energi, karena kesibukan adalah pergerakan, dan sifat energi adalah adalah bergerak dan mengalir. Pergerakan energi tak akan pernah berhenti hingga dunia ini berakhir. Artinya kita memang harus terus sibuk dan bergerak.
Kesibukan dan bergerak yang dimaksud tentu saja bukan berarti bekerja semata. Mengurus keluarga, mendidik anak, mengerjakan hobi, jalan-jalan bersama keluarga pun adalah kesibukan dan pergerakan. Jadi kita memang tidak pernah benar-benar santai :)
Jadi jika anda tidak menyukai kesibukan anda saat ini, jika anda tidak mencintai pekerjaan anda saat ini, pepatah lama selalu berlaku, "Syukuri dulu". Mengeluh tak akan membuat kesibukan kita mendadak berkurang, tapi bersyukur akan membuka jalan menuju kesibukan dan pekerjaan yang lebih menyenangkan.
Semoga kita semua senantiasa bergerak menuju hidup yang lebih baik.
Wallahualam
Ilmu pengetahuan membuktikan bahwa alam semesta ini adalah sistem energi, termasuk tubuh manusia. Sifat energi adalah mengalir kecuali ada yang menahannya. Hambatan energi akan mengakibatkan gangguan dalam skala kecil maupun besar.
Energi adalah satu kesatuan, sehingga sebenarnya kita dan alam semesta ini adalah satu. Makanya dikatakan bahwa pertanda alam adalah pertanda jiwa. Kalau kita mau jujur, sebenarnya segala bentuk musibah dan bencana di muka bumi ini adalah hasil dari pembesaran hambatan energi yang dipancarkan manusia melalui kata-kata, pikiran dan perbuatan negatif. Sehingga semakin banyak manusia yang mengeluh, semakin banyak orang yang berperilaku negatif, maka semakin besar pula pengaruhnya pada gangguan sistem energi alam semesta ini. Itulah sebabnya Tuhan berfirman bahwa segala kerusakan di muka bumi adalah akibat perbuatan manusia sendiri.
Tapi kita tidak usah jauh-jauh dulu bicara tentang efek dari hambatan energi terhadap alam semesta raya (makrokosmos). Mari kita tengok terlebih dahulu efek hambatan energi pada alam semesta kecil (mikrokosmos) yaitu tubuh kita sendiri.
Tubuh manusia pun adalah sistem energi. Lancar tidaknya aliran energi dalam tubuh kita akan tergantung pada kita sendiri. Reaksi awal dari hambatan energi akan terasa pada tubuh berupa gangguan fisik, baik ringan ataupun berat. Sudah pasti kita menginginkan aliran energi kita lancar, tapi apakah kita sudah melakukan upaya untuk memperlancar energi tersebut? Ataukah lebih sering menghambatnya?
Menurut pemahaman sebagian ahli, pada dasarnya dalam tubuh kita tidak ada yang namanya energi negatif, disebut negatif karena energi tersebut tertahan sehingga menimbulkan rasa sakit atau rasa tidak nyaman. Sehingga imbasnya menarik hal-hal yang tidak diinginkan.
Kata-kata, pikiran, perasaan, serta tindakan yang tidak baik adalah pemicu hambatan energi dalam tubuh kita. Mau bukti? Cobalah anda berbohong pada orang tua atau teman, atau siapa saja. Apakah anda merasa tidak nyaman? Atau barangkali anda merasakan sensasi tertentu di badan? Misalnya rasa tidak enak di bagian dada? Atau rasa sakit di leher? Tentu saja, karena kebohongan bukanlah hal yang benar-benar anda inginkan. Kata-kata anda tidak selaras dengan pikiran dan perasaan yang memegang prinsip kebenaran, sehingga terjadilah konflik diri yang mengakibatkan hambatan energi, yang efeknya akan terasa pertama kali di badan, dan pada akhirnya akan terwujud menjadi sesuatu yang tidak menyenangkan, entah anda akan menarik kejadian yang tidak mengenakkan, atau anda mengalami gangguan kesehatan.
Contoh kecil lain, ketika seseorang berulang-ulang bertanya pada anda tentang hal yang sama, misalnya, "Mas, besok jadi ga acaranya?"
Kemudian anda menjawab, " Ya jadi dong, dodol!! Duuh...parah banget sih ni orang!!"
Maka yang terjadi adalah:
1. Muncul gangguan energi di badan anda, karena yang anda ucapkan adalah kata-kata negatif.
2. Gangguan energi bertambah lagi karena anda marah atau jengkel/kesal.
3. Ada tambahan gangguan energi lainnya karena anda menganggap orang lain bodoh, dan itu artinya anda merasa lebih pintar.
4. Makin besarlah gangguan energinya karena anda menghina ciptaan Tuhan yang sempurna dan menyamakannya dengan dodol.
5. Tambah lagi gangguan energinya karena anda mendapat dosa.
Dari satu perkataan saja, kita mendapatkan multiple gangguan energi plus dosa. Maka tidak heran kalau efek dari perbuatan dosa sebenarnya bisa dijelaskan secara ilmiah melalui pemahaman tentang energi.
Semakin besar hal negatif yang dilakukan, makin besar efeknya pada tubuh kita. Cepat atau lambat, efeknya akan terasa selama energi yang terhambat tersebut tidak dialirkan kembali melalui pembersihan, misalnya melalui "permintaan maaf", "pengakuan kesalahan", atau "tobat". Maka tak heran jika ada orang yang sembuh dari penyakit kronisnya setelah meminta maaf pada seseorang yang pernah dia sakiti. Karena dengan mengakui kesalahan, apalagi permintaan maafnya diterima, maka energi yang terhambat dan memicu terjadinya penyakit orang tersebut telah mengalir kembali seperti seharusnya.
Itulah sebabnya perintah dan larangan Tuhan pasti maksudnya selalu baik. Dan pada intinya perintah Tuhan bukanlah untuk Tuhan, melainkan untuk kita sendiri. Ketika kita menjalankan perintah agama, sholat misalnya kalau di agama Islam, jika dilakukan dengan baik dan benar, maka sebenarnya yang dilakukan adalah proses clearing energi yang rutin dilakukan tiap hari, sehingga ada pepatah agama yang mengatakan bahwa, "Kalau sholatnya beres, maka segala sesuatunya juga akan beres". Itulah sebabnya orang yang benar-benar spiritual dan religius memiliki wajah yang cerah dan bercahaya. Akan berbeda dengan mereka yang berspiritual tapi tidak menjalankan perintah agama, mereka tetap hampa karena tidak disinari cahaya Ilahi. Dan tentu saja, akan ada efeknya :)
So, jika kita menyadari bahwa kita bisa dengan mudah memblocking aliran energi, masihkah kita senang berkata, berpikiran, dan berkelakuan yang merugikan diri sendiri? Merusak tubuh sendiri bahkan merusak alam semesta ini?
Wallahualam
Law of attraction is not the only law which exist in the universe. There are many laws, one of them is "The Law of Vacuum".
Alam semesta tidak menyukai kekosongan. Segala sesuatu yang kosong pasti akan terisi. Segala sesuatu di alam semesta ini adalah energi, termasuk cinta dan uang.
Jika kita bisa memahami prinsip kerja Law of Vacuum ini, seharusnya kita akan lebih mudah mendapatkan sesuatu yang kita butuhkan, apakah itu kebutuhan di bidang finansial, relationship, ataupun hal lainnya.
Jadi jika dompet anda kosong, jika cinta anda telah pergi, seharusnya semua akan terisi kembali. Karena energi selalu mengalir ke tempat yang kosong.
Lalu kenapa dompet anda tetap kosong? Kenapa masalah finansial tak kunjung selesai? Kenapa cinta tak kunjung datang? Kenapa jomblo terus-terusan? Kenapa selalu mendapatkan pasangan yang bermasalah?
Dan yang paling penting, bagaimana mengaplikasikan Law of Vacuum ini dalam kehidupan sehari-hari?
Setiap pertanyaan yang rumit, biasanya jawabannya selalu simple.
Jika anda merasa sudah melakukan berbagai metoda pengembangan diri dan berbagai terapi, tapi tak kunjung mendapatkan solusi, cobalah lihat ke dalam diri sendiri, karena penyebab utamanya mungkin adalah..."Anda tidak mau mengosongkan diri"...
Dengan kata lain, ketika anda mengatakan "Tidak bisa", sebenarnya bukan tidak bisa, tapi "Tidak mau"...
Contoh:
Ketika anda selalu bermasalah dengan keuangan, hutang makin bertumpuk, cobalah introspeksi, "Apakah anda sudah mengosongkan diri dengan mengikis keluhan, kecemasan, kekhawatiran dan berbagai emosi negatif lainnya?"
Jika anda tak kunjung mendapatkan pasangan hidup, cobalah introspeksi, "Apakah anda sudah mengosongkan diri dengan memaafkan luka cinta di masa lalu? Apakah anda sudah melepaskan perasaan tidak dicintai? Apakah anda sudah bisa menerima diri anda sendiri?"
Ketika anda mengisi pikiran anda dengan kecemasan tentang keuangan, anda akan menutup ruang untuk energi rezeki yang sebenarnya ada di sekeliling anda.
Ketika anda tidak mau mengosongkan diri dari pikiran tentang si dia yang telah meninggalkan anda, anda telah menutup ruang untuk cinta yang baru yang lebih baik.
"Tapi kan saya jelek, mana ada yang mau sama saya?"
Jelek hanyalah persepsi manusia, lebih tepatnya persepsi diri sendiri, sedangkan di mata Tuhan semuanya sama. Justru dengan melabeli diri sebagai "jelek" lah anda tidak mengosongkan diri, sehingga ruang kosong itu tertutup karena yang terpancar keluar adalah energi negatif yang membentuk persepi bahwa "Anda terlihat jelek".
Dengan kata lain, dalam bidang finansial ataupun relationship, sebenarnya kita sendirilah yang menutup ruang yang seharusnya dikosongkan untuk menerima keajaiban.
Jadi, kosongkan terlebih dahulu diri anda dari segala emosi negatif yang menghambat kemajuan hidup anda. Setelah anda mengosongkan diri, pastikan kekosongan tersebut anda isi dengan pikiran, perasaan, dan tindakan positif sebelum ruang kosong itu secara otomatis terisi oleh energi lain yang belum tentu positif. Setelah itu barulah dengan izin Tuhan Law of Attraction akan bisa bekerja.
Cara kedua untuk mengosongkan diri anda adalah dengan memperbanyak "Syukur", sehingga lambat laun akan mempersempit celah untuk keluhan. Syukur bisa dimulai dengan hal-hal kecil seperti menyadari masih lengkapnya anggota tubuh anda, masih berfungsinya organ-organ tubuh anda, masih banyaknya orang yang mencintai anda, dan masih banyak lagi hal lainnya.
Dalam hal mensyukuri, perlu kita sadari bahwa sebenarnya lebih banyak nikmat yang kita terima dibandingkan dengan penderitaan yang hanya merupakan permainan pikiran, karena semua kejadian pada dasarnya adalah "netral", kitalah yang memberinya makna sebagai hal yang baik atau buruk.
So, ketika anda mendapatkan suatu kejadian yang anda labeli sebagai "buruk", cobalah buat ruang kosong dengan memaknai kejadian tersebut sebagai sesuatu yang baik, dengan cara mencari kebaikan dan hal yang bisa disyukuri dari kejadian tersebut. Karena jika kejadian tersebut membuat anda lebih dekat dengan Tuhan, dan membuat anda mempelajari ilmu pengembangan diri untuk mencapai kehidupan yang lebih baik, berarti anda sudah naik level dari orang yang biasa-biasa saja menjadi orang yang luar biasa.
Just a small note from a lifelong learner.
Saya teringat pada pertemuan alumni Emotional Healing di rumah Suhu Irma Rahayu beberapa waktu yang lalu, sang suhu mengetes kami para alumni untuk menyebutkan jumlah nominal uang yang menurut kami pantas kami dapatkan sebagai penghasilan. Dengan sok yakin saya pun menyebutkan angka "100 juta"!!
Tetapi, menurut suhu Irma ternyata saya tidak yakin bisa mendapatkannya, karena terlihat dari getaran energi yang merupakan sinyal dari pikiran bawah sadar saya yang mengatakan saya belum layak mendapatkan angka tersebut. Kok bisa? Karena yang menyebutkan nominal 100 juta itu tak lebih dari hawa nafsu yang bicara, sedangkan mental saya sebenarnya belum siap mendapatkan penghasilan sebesar itu.
Dari situlah saya makin paham bahwa itulah sebabnya banyak orang yang ingin kaya, banyak orang yang merasa yakin menyebutkan setinggi mungkin nominal yang mereka rasa pantas untuk didapatkan, tetapi tidak pernah mendapatkannya. Karena itu tadi...sebenarnya mereka belum atau tidak merasa layak untuk mendapatkannya.
Lalu kenapa orang bisa merasa tidak layak? Saya mendapatkan jawabannya dalam preview Family Hypnotherapy Training Program by Pak Ariesandi Setyono. Pak Aries menyebutkan bahwa orang bisa mencapai peak performance atau kesuksesan jika ada motivasi dan inisiatif. Tapi motivasi dan inisiatif baru bisa muncul jika kita merasa layak. Tapi rasa layak akan ditentukan oleh rasa aman, rasa dicintai, dan rasa punya kontrol diri.
Nah, permasalahannya, rasa layak/tidak layak ini bisa berawal dari seberapa besar rasa aman, rasa dicintai, dan rasa punya kontrol diri di masa lalu...yang ternyata kebanyakan berawal di masa kecil, pada usia masa-masa pembentukan karakter. Jika ternyata kita tidak pernah merasa aman, tidak merasa dicintai, dan tidak merasa punya kontrol diri yang disebabkan perlakuan orang tua di masa lalu, atau disebabkan peristiwa traumatik yang membekas di ingatan kita, pengaruhnya akan sangat besar dalam kehidupan kita di masa mendatang. Bisa berimbas ke masalah finansial, relationship, dan kesehatan....
So, bagi yang memiliki masalah ketidaklayakan, mulai dari merasa tidak layak punya uang banyak, merasa tidak layak mendapatkan pasangan yang cantik/tampan, bahkan sampai merasa tidak layak mendapat pertolongan Tuhan...bereskan dulu rasa aman, rasa dicintai, dan rasa punya kontrol diri anda, barulah anda bisa melangkah maju menuju kehidupan yang lebih baik.
Kawan...
Kenapa kau utarakan kepedihan dan penderitaan disaat kau menginginkan kebahagiaan?
Kenapa kau pikirkan kebencian disaat cintalah yang ingin kau rasakan?
Sadarkah kau wahai kawan? Bahwa apa yang kau ucapkan, pikirkan, dan rasakan, sebenarnya bukanlah hal-hal yang kau inginkan?
Ataukah kau lebih nyaman mengumbar penderitaan?
Agar dikasihani teman?
Sebagai protes pada Tuhan?
Kawan...
Hentikanlah segala keluhan
Mereka tidak akan memberimu kebebasan
Yang kau butuhkan adalah kesabaran, kesadaran dan keyakinan
Bahwa Tuhan tak akan mengujimu melebihi kesanggupan
Semua itu adalah jalan untuk membuatmu menjadi hamba-Nya yang dilebihkan
Kawan...
Berfokuslah pada kebahagiaan
Sekecil apapun usaha yang kau lakukan
Niscaya akan membuka jalan
Menuju kehidupan yang kau impikan
Dalam pelatihan Terapi Hati Mahakosmos, Mas Kris menyampaikan satu hal yang menarik yaitu..."Mendoakan alam semesta dan seluruh ciptaan Tuhan". Tidak lama dari situ, saya membaca sebuah artikel dari Aa Gym tentang "Mendoakan orang lain". Intinya beliau menyarankan untuk mendoakan siapa saja yang kita lihat. Misalnya jika kita melihat pedagang asongan sedang jualan, doakan agar dagangannya laku, rejekinya lancar, sehat dll. Begitu pula jika melihat polisi sedang bertugas, doakan agar dia sehat, rejekinya lancar, selamat dalam tugasnya dll.
Baik hal yang disampaikan oleh Mas Kris ataupun Aa Gym sebetulnya bukanlah hal yang baru, tapi jarang orang yang mau melakukannya. Mungkin ada yang berpikir, "Ngapain cape-cape doain orang lain? Diri sendiri aja belum beres!"
Atau..."Ribet bener sih? Masa tiap lihat orang langsung doain, lihat pohon doain juga, ga ada kerjaan lain apa?"
Well, semua berpulang pada hati masing-masing. Tapi dengan keterbatasan pemahaman, saya menangkap beberapa poin berikut:
Jika kita sering mendoakan alam seperti pepohonan, gunung, darat, laut udara, dan komponen alam semesta lainnya, maka kita sudah bersedekah untuk alam semesta. Dan sesuai hukum sebab akibat, kebaikan pasti akan mendatangkan kebaikan. Jika kita bersahabat dengan alam, maka alam pun akan bersahabat dengan kita. Bukan tidak mungkin disaat bencana alam terjadi di wilayah tempat kita berada, kita justru selamat karena alam tidak menyentuh kita, karena kita selalu mendoakan kebaikan untuk alam.
Demikian pula halnya dengan mendoakan orang lain. Jika kita sering mendoakan kebaikan untuk orang lain, insyaalloh kebaikan akan mendatangi kita. Kalau kata Mas Kris, mendoakan alam dan orang lain akan menjadi penarik rezeki yang kuat. Ya, apa yang kita dapat akan selalu berbanding lurus dengan apa yang kita berikan. Makin banyak doa kebaikan yang kita berikan pada orang lain dan alam, insyaalloh makin banyak pula berkah dan karunia yang akan kita terima.
Mendoakan orang lain dan alam semesta akan terasa lebih menyejukkan ketimbang berpikir negatif tentang orang lain atau keadaan alam sekitar. Karena biasanya ada saja hal-hal yang membuat kita ingin berkomentar. Misalnya ketika melihat seorang wanita berdandan menor, tiba-tiba secara otomatis terlintas kata-kata negatif dalam pikiran, "Menor banget sih tuh cewek? Buseet dah, ga kurang tebel tuh lipstiknya?"
Tetapi jika celaan atau komentar tersebut kita ganti dengan doa, maka selain berpahala, hati juga terasa lebih sejuk karena energi positif yang terpancar dari doa-doa tersebut. Selain itu, mendoakan alam dan orang lain akan mengalihkan fokus kita dari pikiran-pikiran negatif yang terlintas karena masalah yang sedang dihadapi misalnya.
So, jika melihat orang kaya, doakanlah agar dia menjadi makin kaya dan makin dermawan. Jika melihat pasangan muda mudi yang pacaran secara demonstratif, doakan saja agar dapat hidayah dan segera menikah. Jika melihat tampang boss yang cemberut, doakanlah agar dia bahagia, dsb...
Bagaimana menurut anda? :)
Seringkali saat seseorang mendapatkan masalah, doa yang dipanjatkan adalah meminta 'kemudahan' untuk keluar dari kesulitan yang dia alami. Memang tidak salah, boleh-boleh saja meminta kemudahan. Tapi bagi saya ada yang lebih penting daripada sekedar meminta kemudahan.
"Kekuatan"...ya, itulah yang lebih penting menurut saya. Kenapa? Karena kekuatan akan menghasilkan kemudahan. Dengan kata lain, jika kita kuat segala sesuatunya akan terasa mudah.
Sebaliknya, jika terlalu sering diberikan kemudahan, seringkali kita malah jadi lemah. Jika tidak dibekali iman, seseorang yang terbiasa hidup dalam kemewahan dan kesenangan akan mengalami shock berat ketika roda kehidupan berputar sehingga menyebabkan kejatuhan dan kebangkrutan. Lain halnya dengan orang-orang yang terbiasa hidup dalam kesulitan, pengalaman di lapangan telah menempa mereka menjadi orang-orang yang tangguh ketika menghadapi masalah yang sama, karena pada dasarnya masalah di dunia ini hanya itu-itu saja.
Bicara tentang kemudahan yang menyebabkan orang jadi lemah, saya teringat kisah tentang kucing liar yang terbiasa mencari makanan di tong sampah. Suatu ketika ada seorang ibu yang berbaik hati memberi makanan padanya. Dan hal itu berlangsung setiap hari. Perlahan-lahan kucing itu mulai ketergantungan dengan kemudahan yang tersedia, dan akhirnya dia hanya mau makan makanan rumahan yang diberikan si ibu setiap pagi dan petang. Tetapi suatu hari, si ibu tak lagi muncul karena sudah pindah rumah. Si kucing liar yang sudah terlanjur ketergantungan setiap hari hanya menunggu si ibu datang membawakan nampan berisi makanan kesukaannya. Tapi dari hari ke hari, si ibu tak kunjung menampakkan diri. Akhirnya si kucing liar itu kelaparan dan mati.
Kupu-kupu yang tengah bermetamorfosa dan berjuang keras keluar dari kepompong yang sempit justru akan lemah dan mati dengan sayap kuncup jika kita membantunya keluar dengan cara memotong atau melubangi kepompongnya. Karena itulah takdir yang harus dijalani si kupu-kupu, dia harus menjalani proses melewati lubang sempit kepompong agar cairan dalam tubuhnya terdorong sehingga mengokohkan sayapnya, agar dia menjadi kupu-kupu yang cantik.
Janganlah kita menjadi lemah karena masalah. Mintalah kekuatan sebelum minta kemudahan. Karena setelah kita kuat, otomatis semua akan jadi mudah. Tuhan memberikan kita anugerah berupa masalah karena Dia ingin kita naik level menjadi pribadi yang tangguh. Fitrah kita adalah sebagai khalifah-Nya di muka bumi, maka sudah sepatutnyalah kita menjadi manusia yang tangguh. Dan ketangguhan akan membuktikan bahwa kita lebih besar daripada masalah yang (seringkali) dibesar-besarkan.
Kekuatan...akan membuat segalanya mudah, dan berakhir indah :)
Yup, saya tidak salah nulis judul :)
Bukan "The world is not enough" seperti judul salah satu film James Bond, tapi saya bicara tentang "Word" alias kata.
Sepulang mengikuti pelatihan Terapi Hati Mahakosmos, saya merenungkan kembali apa yang saya dapatkan dari pelatihan tersebut. Inti yang saya dapatkan adalah metode berdoa dengan menggunakan indera hati.
Beberapa waktu terakhir ini saya melakukan pencarian tentang kenapa ada doa yang terkabul dan kenapa ada yang tidak. Berbagai macam jawaban saya dapatkan mulai dari doa yang kurang khusyuk, doa yang kurang baik, adanya dosa-dosa yang menghalangi doa, hukum sebab akibat, dll. Tapi jawaban yang paling sering saya dapatkan adalah "Tuhan lebih tahu apa yang kita butuhkan". Makanya kalau doa tidak terkabul itu berarti Tuhan akan memberikan hal yang lebih baik dari doa kita.
Semua jawaban tersebut tentu saja benar. Tetapi saya merasa masih ada satu missing link lagi di antara semua itu. Terutama ketika membaca/mendengar kisah orang-orang yang terkabul doanya, padahal mereka itu ga spiritual/religius amat. Bahkan (maaf saja) ada teman yang ahlaknya kurang terpuji, tapi hanya dalam sekali tahajud doanya langsung terkabul.
Akhirnya saya kembali tanya sana-sini dan menemukan jawaban yang menyejukkan bahwa kuncinya ternyata adalah "suasana hati". Ya, kita memang sering jungkir balik berdoa itu ini, tapi seringkali kita lupa membawa hati ketika mengucap serangkaian kalimat yang dipanjatkan pada-Nya.
Bukan indahnya rangkaian kalimat doa yang menentukan terkabul tidaknya keinginan kita. Bahkan doa yang katanya paling manjur pun belum tentu manjur jika suasana hati tidak mendukung. Saya teringat Mario Teguh pernah mengatakan yang intinya menjelaskan bahwa terkabulnya sebuah doa ditentukan oleh orangnya, bukan doanya. "Bukan doanya yang hebat, tapi orangnya yang hebat".
Terakhir saya bertanya pada Kang Isman, seorang teman saya yang sudah sering mendapatkan berbagai hal yang dia cita-citakan (dan rata-rata doanya hanya sekali). Beliau menjawab, "Do'a bisa diucapkan sekali atau berkali-kali, silahkan saja. Yang penting bagaimana kualitas hati kita ketika memanjatkan doa".
Ternyata kata-kata saja tidak cukup, kita harus terampil membawa hati. Untuk itu mari kita tingkatkan kualitas hati, agar doa-doa yang kita panjatkan bukan sekedar rangkaian kata yang mirip puisi, tapi lebih berarti karena berasal dari suara hati, yang menjadi jembatan penghubung antara kita dengan Sang Ilahi.
You rise, you fall, you down and you rise again
What don't kill you make you more strong...
Sepenggal lirik sebuah lagu di atas membuat saya manggut-manggut. Bukan karena hentakan musiknya yang memberikan semangat, tapi karena isi liriknya.
Kita semua punya masalah, berat ringannya tergantung pada persepsi masing-masing. Ada orang yang menganggap masalahnya sebagai masalah terberat sedunia, tapi di mata orang lain ternyata masalah itu tak seberapa. Tetapi ada juga yang benar-benar menjalani kehidupan yang berat karena terbebani oleh masalah-masalah yang membuat hidup serasa diujung tanduk.
Jika anda termasuk dalam golongan yang punya proyek hidup yang berat yang membuat anda putus asa, bahkan pernah membersitkan niat untuk mengakhiri hidup, well, saya ucapkan selamat, karena anda adalah seorang survivor, anda adalah orang yang kuat, anda ternyata memilih untuk tetap hidup. Karena ketika seseorang jatuh dalam titik nadir terendah dalam kehidupannya, maka hanya ada dua pilihan untuknya. Tetap di tempat dan membusuk, atau bangkit dan memanjat kembali tebing kehidupan untuk meraih impian.
Ajaran agama mengatakan bahwa Tuhan tidak pernah memberikan ujian yang melampaui kemampuan kita. Tuhan tidak pernah mendzalimi hamba-Nya. Itulah sebabnya hal yang tidak membunuh anda, akan membuat anda menjadi lebih kuat, terutama ketika menghadapi masalah yang sama.
Saya teringat ucapan Pak Mario Teguh yang kurang lebih bunyinya sebagai berikut: "Kualitas hidup seseorang ditentukan oleh seberapa besar hambatan yang menghadang di depannya. Berbanggalah jika anda memiliki masalah yang besar, karena itu artinya anda besar di mata Tuhan."
So buat anda yang punya problem hidup yang dirasa berat, jangan putus asa, bangkitlah, masalah tak akan membunuh anda, kecuali anda yang memutuskan untuk menyerah pada masalah.
Rise...fall down...rise again...
What don't kill you make you more strong!
Menginginkan perubahan hidup ke arah yang lebih baik adalah dambaan semua orang. Tetapi ada orang-orang yang mengalami konflik batin justru disaat mereka mereka dalam proses menuju perubahan. Hal yang sama telah membuat perkembangan diri saya terhambat, dan baru-baru ini saya menyadari kalau saya juga luput melakukan langkah awal yang krusial tersebut.
Step pertama tersebut adalah, "Berdamai dengan diri sendiri".
Seorang sahabat bercerita tentang konflik batinnya ketika dia menginginkan kehidupan yang lebih baik. Di satu sisi dia yakin pada Tuhan dan janji-janji-Nya, tetapi di sisi lain dia bertanya-tanya, "Siapa saya? Kenapa Tuhan mau menolong saya? Maukah Tuhan menolong saya?"
Walaupun secara tidak disadari, dia telah menempatkan dirinya di posisi yang tidak dia inginkan, yaitu posisi sebagai orang yang tidak pantas untuk ditolong Tuhan, padahal Tuhan Maha Pengasih, bahkan orang yang penuh dengan limbah dosa pun pantas dan layak untuk ditolong oleh-Nya untuk kembali ke jalan yang benar.
Seseorang yang menginginkan kehidupan yang lebih baik tapi merasa tidak pantas mendapatkannya, akan cenderung sulit untuk mendapatkan perubahan yang dia inginkan.
Seseorang yang ingin menyelesaikan permasalahan hidup yang menimpanya tapi tidak mampu memaafkan dirinya sendiri atas kesalahan yang menciptakan permasalahan yang dia hadapi, akan mengalami hambatan besar karena pikirannya mencari solusi yang ada di luar, padahal sumber masalah ada di dalam.
Oleh karena itu, sudah sepantasnyalah kita sadari bahwa jalan yang terbaik untuk memulai perubahan adalah berdamai dengan diri sendiri, cintai diri sendiri, pantaskan diri untuk hidup yang lebih baik, dan berhentilah menyalahkan diri atas segala yang telah terjadi.
"Kasihi dirimu, jangan kasihani dirimu."
Hari ini saya bahagia sekali bisa berkumpul bersama kawan-kawan dari sebuah milis untuk acara buka puasa bersama yang diadakan di rumah salah seorang anggota milis. Yang lebih membuat saya bahagia adalah banyaknya pencerahan yang saya dapatkan. Salah satu pencerahan tersebut adalah topik tentang "Pencarian kebahagiaan".
Menurut Mas Gobind, teman yang baru saya kenal dalam gathering tersebut, manusia kecanduan dengan yang namanya "Kebahagiaan". Saya setuju, karena pada dasarnya yang kita cari dalam kehidupan ini adalah kebahagiaan. Bahkan untuk mencari rasa bahagia tersebut, orang rela melakukan berbagai cara, termasuk cara yang salah seperti menggunakan narkoba yang tujuan sebenarnya adalah untuk sekedar 'mencicipi' rasa bahagia dengan cara merangsang hormon-hormon yang menimbulkan perasaan bahagia.
Kekeliruan seringkali terjadi dalam pencarian kebahagiaan, yaitu mencari kebahagiaan yang diwakili oleh simbol-simbol materi, padahal semua itu bukanlah kebahagiaan hakiki, karena pencarian tersebut dilakukan "di luar", sedangkan yang harus dicari sebenarnya ada "di dalam".
Mungkin anda pernah mendengar kisah tentang Nasruddin yang mencari jarum yang hilang. Dia kehilangan jarum itu di dalam rumah, tapi anehnya dia malah mencarinya di luar rumah, dengan alasan di dalam 'gelap' dan di luar 'terang'. Begitu pula dengan kebanyakan orang yang mencari kebahagiaan di luar dirinya, padahal kebahagiaan yang dicari itu berada di dalam dirinya, atau lebih tepatnya ada di 'hati'nya. Orang sibuk mencari kebahagiaan di luar karena tak mampu melihat ke dalam dirinya, karena di dalam 'gelap'. Padahal dalam kegelapan tersebut telah tersedia segala kesenangan dan kebahagiaan yang tak membutuhkan persetujuan dari dunia luar.
Kebahagiaan adalah pilihan, bukan hasil akhir. Jika kita bisa memilih untuk bahagia saat ini juga, kenapa harus bersusah payah menunggu lengkapnya simbol-simbol materi yang tak akan kunjung memuaskan dahaga dan tak jelas kapan pencapaiannya?
Pencarian kebahagiaan seharusnya dilakukan ke dalam, bukan keluar. Karena kebahagiaan adalah kondisi hati. Kita hanya perlu menyalakan cahaya hati berupa "kesadaran" untuk memilih dan menemukan kebahagiaan dalam diri. Karena disaat cahaya hati mulai menyala, maka pada saat itulah kita akan mulai mengundang berbagai kemudahan hidup.
"Change your inner world first. Not the outer world".
"The universe cannot put good into your hand, until you let go of what you are holding in it." (Randy Gage)
Sekitar pukul 3 sore kemarin, seorang sahabat menelepon saya untuk berbincang-bincang ditambah sedikit curhat. Ditengah perbincangan tersebut sempat kami menyinggung soal keuangan, dimana menurut dia saya lebih beruntung karena masih punya sisa uang lebih banyak, sedangkan dia hanya tinggal memiliki 50 ribu di tabungannya, karena dia punya proyek hidup yang sama dengan saya yaitu proyek "Besar pasak daripada tiang".
Lalu entah dapat wangsit dari mana saya tiba-tiba teringat tentang "The Law of Vacuum" yang merupakan salah satu dari sekian banyak hukum alam. Langsung saja saya utarakan padanya bahwa alam semesta tidak menyukai kekosongan, jadi segala sesuatu yang kosong pasti akan terisi. Contoh paling mudah adalah, jika kita berjalan di pasir pantai, kita pasti akan meninggalkan jejak kaki. Tetapi jejak itu tak akan bertahan lama, karena angin dan ombak akan menutupi jejak kaki tersebut dengan pasir yang baru.
Obrolan yang berlangsung sekitar setengah jam itu pun usai. Saya hanya berharap semoga apa yang saya ceritakan bisa sedikit menghiburnya.
Kurang lebih dua jam kemudian, teman saya menelepon lagi, saya pikir dia mau curhat lagi. Ternyata...nada suaranya berbunga-bunga karena dia melaporkan keajaiban yang baru saja dia alami! Dia bilang kaget karena ketika menarik uang di ATM yang seharusnya adalah uang terakhir di rekeningnya...ternyata tercatat saldo masih sisa Rp.150 ribu rupiah. Entah dari mana uang itu berasal, tapi langsung saja dia tarik uangnya dan dengan gembira menuju mini market untuk belanja. Dan ketika membayar di kasir, dia terkejut karena mendapat diskon yang cukup besar untuk minyak sayur yang dibelinya. Wow, what a miraculous life! The Law of Vacuum works!
Tentu saja menerapkan The Law of Vacuum tidak berarti anda harus mengosongkan isi dompet dulu lalu berharap ada uang jatuh dari langit mengisi dompet anda .
Inti dari The Law of Vacuum yang bisa diterapkan dalam kehidupan dalam batas pemahaman saya adalah, "Untuk mengisikan sesuatu yang baru ke dalam hidup kita, seringkali kita harus mengosongkan dulu wadah yang kita miliki". Dan wadah tersebut adalah "Pikiran kita".
Jika kita masih mempertahankan sesuatu yang negatif, maka tak akan ada ruang untuk hal yang positif. Jika kita masih ngotot mempertahankan pola pikir yang sudah jelas-jelas tidak lagi mendukung kehidupan kita, maka tak akan ada ruang untuk perubahan menuju hidup yang lebih baik.
Jika kita masih memendam benci, dengki, iri hati, kesedihan, dan emosi negatif lainnya, jangan harap kebaikan akan datang pada kita.
Jika kita ingin cinta yang indah tapi masih mempertahankan cinta lama yang justru malah menyakiti, maka tak akan ada ruang untuk cinta baru yang lebih baik.
Jika kita ingin kaya tapi masih menganggap uang adalah akar segala kejahatan, maka jangan harap kita bisa kaya.
Kosongkan pikiran dan perasaan anda dari segala beban emosi negatif, dan niatkan untuk mengisinya dengan hal yang positif, The Law of Vacuum akan bekerja mengisi kekosongan tersebut sesuai arahan pikiran anda.
Hidup kita saat ini adalah hasil dari keputusan-keputusan hari kemarin. Baik atau buruk, semua adalah hasil keputusan kita sendiri. Tuhan tidak pernah mendzalimi manusia, tapi manusialah yang mendzalimi diri sendiri. Seringkali manusia menyalahkan Tuhan karena masalah yang dia buat sendiri, atau menyalahkan Tuhan karena merasa Tuhanlah yang menjadikan mereka orang yang selalu salah membuat keputusan.
Seorang pensiunan memutuskan untuk menggunakan uang pensiunnya demi ikut investasi dalam sebuah bisnis "menguntungkan" yang ditawarkan oleh sahabatnya. Belum sebulan, ternyata ketahuan kalau bisnis itu fiktif, sahabatnya menghilang entah kemana, dan raib pula lah uang pensiunnya.
Seorang pria diperingatkan oleh teman-temannya untuk tidak menikahi seorang wanita yang dia cintai karena menurut teman-temannya, wanita itu tidak baik untuknya. Tapi tetap saja dia memutuskan untuk menikahi wanita itu. Dan ternyata di kemudian hari wanita itu meninggalkannya demi pria lain. Sang pria pun larut dalam penyesalan karena tidak mau mendengarkan nasehat teman-temannya.
Jika dianalisa secara umum, dua contoh kasus di atas berawal dari keputusan yang salah. Tetapi jika kita mau memandangnya dari sisi positif, sebenarnya tidak ada keputusan yang salah. Benarkah begitu?
Ya, karena seseorang membuat keputusan berdasarkan pengetahuan dan sumber-sumber yang dia miliki "pada saat itu".
Pensiunan dalam cerita di atas menginvestasikan uangnya berdasarkan pengetahuan dan sumber yang dia miliki saat itu, yaitu "Bisnis ini dikelola oleh sahabatnya, dan bisnis ini menguntungkan."
Pria dalam cerita di atas hanya memiliki pengetahuan dan sumber-sumber yang baik tentang wanita yang dia cintai. Dia merasa lebih tahu siapa kekasihnya, sehingga tidak menghiraukan nasehat teman-temannya.
Seorang wanita yang memutuskan untuk menjual tubuhnya karena terdesak kebutuhan hidup kemungkinan tidak memiliki pengetahuan dan sumber-sumber lain untuk keluar dari masalah hidupnya. Yang terpikirkan hanyalah "solusi yang cepat", walaupun berakibat penyesalan. Walaupun sebenarnya ada solusi lain yang lebih baik, tapi dia tak mampu melihatnya "saat itu", sehingga itulah keputusan terbaik yang bisa dia lakukan "saat itu".
Pepatah mengatakan, "Jangan sesali langkah yang telah kita ambil".
Pepatah lain mengatakan, "Lakukan saja walaupun hasilnya salah".
Meski demikian bukan berarti kita bebas sembarangan membuat keputusan yang salah. Bukan berarti kita boleh menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan dengan keputusan yang salah. Yang perlu digarisbawahi di sini adalah "perubahan persepsi" agar kita tidak menyesali langkah dan keputusan yang telah kita ambil, jika ternyata hasilnya salah. Karena sesungguhnya tak ada satu pun hal yang sia-sia dalam kehidupan ini. Selalu ada pembelajaran yang bisa diambil dari suatu kesalahan, dan selalu ada solusi untuk keluar dari masalah yang disebabkan oleh kesalahan keputusan.
Kesalahan membuat keputusan adalah sebuah proses yang diperlukan untuk menyingkap tirai kebenaran yang akan menjadikan kita pribadi yang lebih tangguh dan lebih siap dalam menerjang arus kehidupan.
