Sebuah diskusi menarik terjadi antara saya dan seorang sahabat. Ketika itu kami membahas tentang afirmasi. Dan ternyata ada dua sudut pandang yang berbeda.
Yang pertama, dikatakan bahwa ketika kita mengalihkan fokus dengan afirmasi positif, misalnya dengan mengatakan, "Saya akan baik-baik saja, saya pasti bisa, saya luar biasa!" dll. Ternyata cara seperti ini cenderung menekan perasaan yang sebenarnya seperti takut, cemas, gelisah, dll. Sehingga efek penekanan tersebut akan memunculkan dua vibrasi yang berbeda. Yang pertama vibrasi positif, dan yang kedua vibrasi negatif. Mana yang lebih dominan, itulah yang akan menarik vibrasi yang sama. Dan banyak orang yang cenderung lebih kuat vibrasi negatifnya, sehingga afirmasi positifnya malah menarik kejadian yang negatif.
Sehingga solusinya adalah menyadari terlebih dahulu perasaan-perasaan negatif yang ada, biarkan mengalir sebagaimana hukum energi yang seharusnya mengalir, kemudian barulah kita isi dengan afirmasi positif.
Pendapat yang kedua adalah berdasarkan pepatah agama yang mengatakan, "Setiap kebaikan akan menghapus keburukan". Afirmasi positif tentunya bertujuan baik, karena itu tetap layak dilakukan jika ditujukan untuk mengikis pikiran negatif. Dan ketika repetisi afirmasi positif dilakukan terus menerus serta menjadi kebiasaan, maka tentunya lambat laun akan tertanam di pikiran bawah sadar sehingga menjadi kebiasaan yang baru, yaitu kebiasaan berpikir positif.
Mana yang lebih efektif? Saya hanya bisa bilang dua-duanya baik. Tapi mana yang lebih kita percayai itulah yang cenderung akan bekerja untuk kita. Karena sehebat apapun sebuah ilmu atau metode, akan tergantung pula dari kepercayaan penuh kita pada ilmu atau metode tersebut.
Wallahualam
Ada yang berbeda pada hari raya Idul Fitri tahun ini. Saya tidak bisa merayakannya bersama keluarga karena urusan kerja. Ini pertama kalinya terjadi dalam hidup saya setelah bertahun-tahun lamanya selalu lebaran bersama keluarga.
Well, memang terasa ada yang hilang, karena tahun ini untuk pertama kalinya pula saya tak bisa makan ketupat, meskipun penjual ketupat sayur ada di mana-mana. Tapi yang lebih terasa adalah karena tak bisa sholat Ied bersama-sama keluarga. Tak bisa dipungkiri, sedih memang. Tapi ada pelajaran berharga yang saya dapatkan, dan selalu ada yang bisa disyukuri karena semua kejadian tak ada yang sia-sia.
Pertama, untuk pertama kalinya saya Sholat Ied bersama orang-orang yang tidak saya kenal. Dan setelah selesai sholat, kami saling berjabatan tangan. Terasa sekali persaudaraan sesama muslim di sana. Bahkan saya bersalaman dengan para petugas polisi yang bertugas menjaga keamanan di sekitar tempat sholat. Rasanya menyenangkan bisa bersilaturahmi dengan orang-orang yang tidak saya kenal tapi terasa seperti saudara dekat.
Kedua, karena tempat sholat Ied ini bersebelahan dengan perumahan penduduk yang kurang mampu, baru kali ini saya menyaksikan ada orang-orang yang sholat Ied dengan baju seadanya. Mungkin karena tak bisa membeli baju baru atau cuma itu baju terbaik yang mereka punya. Bahkan ada yang tak punya sajadah, mereka sholat hanya beralaskan koran bekas. Melihat itu, saya jadi berpikir mungkin juga mereka tak punya ketupat untuk dimakan sehabis sholat. Trenyuh juga melihatnya, tapi di sisi lain mengingatkan saya untuk bersyukur karena masih punya baju yang bagus, dan hidup saya masih jauh lebih beruntung dibandingkan mereka.
Ketiga, berhubung saya tak bisa lebaran karena urusan pekerjaan, maka perusahaan membayarkan saya untuk tinggal sementara di sebuah kost mewah di wilayah yang berdekatan dengan gedung kantor tempat saya bekerja. Melihat fasilitasnya yang wah, maka saya tak heran begitu mengetahui berapa sewa kostan tersebut sebulannya. Tapi kalau mesti pakai uang sendiri, saya pasti akan pikir-pikir dulu untuk kost di sana. Karena biaya per bulannya sebanding dengan biaya untuk nyicil rumah sekaligus mobil. Tapi saya sangat bersyukur bisa menikmati fasilitas mewah tersebut karena membuat saya merasa sangat berkelimpahan, hehehe...norak deh :)
Intinya, pengalaman ini membuat saya mendapat kesempatan untuk merasakan kehidupan yang tidak seperti biasanya, sehingga saya jadi tahu apa rasanya tidak bisa berlebaran bersama keluarga, bahkan apa rasanya tak bisa makan ketupat di hari raya. Karena faktanya cukup banyak mereka yang tak bisa berlebaran dikarenakan harus bekerja demi negara atau melayani masyarakat sehingga tak bisa menikmati ketupat.
Terima kasih atas pengalaman istimewa ini Ya Tuhan, mudah-mudahan menjadikan Aku sebagai hamba-Mu yang selalu ingat untuk bersyukur pada-Mu :)
Dan kepada para sahabat yang suka mengunjungi blog saya, atas nama pribadi saya ucapkan selamat hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1431H, mohon maaf lahir batin atas segala kesalahan, terutama jika ada tulisan-tulisan yang tidak berkenan.
Wassalam
Goen
---
http://power-within.com
Facebook: Power Within
Judul di atas adalah judul dari sebuah lagu karya Black Eyed Peas, yang intinya adalah "Apakah anda omdo?" :)
Ya, banyak sekali orang yang pandai menasehati, mengajak pada kebaikan, bahkan mengatur kehidupan orang lain melalui saran-saran bijaknya. Akan tetapi berapa banyak dari mereka yang benar-benar menjalankan apa yang mereka ucapkan? Dan berapa banyak dari mereka yang pandai menasehati diri sendiri, atau mengatur diri sendiri?
"Ah, elu mah ngemeng doang!"
"Ngomong sih ngampang! Elu kan ga ngerasain apa yang gua alami!"
Easier said than done.
Memang harus diakui, lebih mudah mengatur dan menasehati orang lain daripada mengatur dan menasehati diri sendiri. Apalagi jika kita tidak pernah mengalaminya sendiri. Dengan kata lain, seringkali kita hanya "Omdo" alias ngomong doang.
Pepatah mengatakan, "Anda baru bisa disebut tahu jika anda menjalaninya, bukan cuma tahu tapi tidak dijalani. Bukan pernah membacanya, pernah mendengarnya, atau suka membicarakannya, tapi tidak pernah mengalaminya."
Akan tetapi, sebaiknya kita melihat kasus omdo ini dari dua sisi sebagai berikut:
1. Jika omdo tersebut niatnya adalah ingin diakui sebagai orang hebat, orang pintar, orang berilmu, orang bijak, dll, maka ini masuk kategori orang munafik. Tipe orang seperti ini bicara karena butuh penghargaan dan pengakuan dari orang lain. Orang seperti ini ibarat calo yang mengajak orang lain naik angkot atau bis, tapi dianya sendiri tidak ikut naik. Dan Tuhan tidak menyukai orang yang omdo.
2. Jika omdo tersebut niatnya adalah murni berbagi, sambil tetap mengakui bahwa kita sendiri pun masih dalam proses menuju ke sana, maka ini bagus, karena kita tidak mengaku-aku sebagai orang bijak atau orang suci yang bahagia 100% non stop. Tetapi kita menasehati karena didasari kewajiban untuk menyampaikan kebaikan walaupun hanya satu ayat.
Berarti boleh dong menyampaikan sesuatu yang kita belum pernah menjalankannya?
Boleh saja, kenapa tidak? Toh bisa jadi nanti Tuhan akan kasih jalan supaya kita menjalaninya, dan mempraktekkan apa yang selama ini sering kita nasehatkan pada orang lain.
Yang kedua, tidak mungkin semua orang punya pengalaman yang sama persis. Jadi boleh-boleh saja kita menasehatkan untuk sabar dan tabah pada orang yang terkena penyakit kanker, meskipun kita sendiri tidak pernah sakit kanker. Boleh saja kita sarankan obat-obatan tradisional untuknya meskipun kita sendiri hanya tahu lewat buku, internet atau pengalaman orang lain, dan belum pernah merasakan sendiri manjur tidaknya obat itu.
Dan yang ketiga, meskipun masalah di dunia ini hanya itu-itu saja, tetapi kadar atau porsi masalahnya berbeda-beda. Yang satu kena musibah hutang puluhan juta, tetapi yang lain kena musibah hutang milyaran rupiah. Dan itu memang sesuai dengan tingkat kekuatan mereka, karena tidak semua manusia sanggup dibebani porsi masalah yang sama. Jadi meskipun masalah kita tidak lebih berat daripada masalah orang lain, bukan berarti kita tidak boleh memberi saran dan nasehat pada orang yang punya masalah lebih berat dari kita.
Jangan salah persepsi dengan nasehat agama yang mengatakan "Tuhan tidak menyukai orang yang omdo", sehingga Anda jadi memilih untuk diam, tidak melakukan apapun, dan tidak berani menyampaikan kebaikan apapun. Sekali lagi, semua kembali pada niatnya, dan karena didasari oleh kewajiban untuk menyampaikan kebaikan.
Semoga kita dijaga dari sifat munafik dan tidak bicara serta menasehati karena butuh pengakuan dan penghargaan dari manusia.
Wallahualam
P.S.
Checkout my ebook Power Within Here
