Tak terasa waktu berlalu dengan cepat. Sudah hari jumat lagi, padahal rasanya baru kemarin jumatan. Tak terasa tahun 2010 sudah mendekati ujungnya, padahal rasanya baru kemarin tahun baruan. Tak terasa usia sudah semakin tua, padahal rasanya baru kemarin lulus kuliah.
Sahabat, waktu kita sangat terbatas, kita tidak tahu sampai usia berapa kita akan berada di dunia. Kita tidak tahu kapan kita akan dipanggil oleh-Nya. Apakah yang sudah kita persiapkan untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatan kita selama di dunia?
Dalam skala besar, itu adalah hal penting yang harus kita pikirkan. Tapi untuk menuju ke sana, kita mulai dengan mempertanyakan, "Apakah seiring waktu yang telah berlalu, kita mengalami perubahan yang semakin baik? Atau sama saja? Atau lebih buruk?"
Sahabat, waktu kita sangat terbatas, jika kita tidak berubah sekarang juga, lalu kapan kita akan berubah?
Jika kita sadar bahwa kita harus berubah, lalu apa yang telah kita lakukan untuk menuju perubahan itu? Apakah hanya menunggu keajaiban datang? Tidak, kita harus mengambil tindakan untuk menjemput keajaiban itu sekarang juga.
Jika kita harus menunggu punya pasangan ideal dulu atau harus kaya dulu agar bisa bahagia, lalu kapan kekayaan dan pasangan ideal itu akan tiba? Adakah jaminan usia kita akan sampai untuk mendapatkannya?
Bahagia harus dimulai sekarang juga, kita tidak bisa mengubah keadaan di luar tanpa mengubah keadaan di dalam diri. Dan waktu kita sangat terbatas, jadi putuskanlah untuk berubah menjadi lebih baik, sekarang juga.
Wallahualam
Sebuah diskusi menarik terjadi antara saya dan seorang sahabat. Ketika itu kami membahas tentang afirmasi. Dan ternyata ada dua sudut pandang yang berbeda.
Yang pertama, dikatakan bahwa ketika kita mengalihkan fokus dengan afirmasi positif, misalnya dengan mengatakan, "Saya akan baik-baik saja, saya pasti bisa, saya luar biasa!" dll. Ternyata cara seperti ini cenderung menekan perasaan yang sebenarnya seperti takut, cemas, gelisah, dll. Sehingga efek penekanan tersebut akan memunculkan dua vibrasi yang berbeda. Yang pertama vibrasi positif, dan yang kedua vibrasi negatif. Mana yang lebih dominan, itulah yang akan menarik vibrasi yang sama. Dan banyak orang yang cenderung lebih kuat vibrasi negatifnya, sehingga afirmasi positifnya malah menarik kejadian yang negatif.
Sehingga solusinya adalah menyadari terlebih dahulu perasaan-perasaan negatif yang ada, biarkan mengalir sebagaimana hukum energi yang seharusnya mengalir, kemudian barulah kita isi dengan afirmasi positif.
Pendapat yang kedua adalah berdasarkan pepatah agama yang mengatakan, "Setiap kebaikan akan menghapus keburukan". Afirmasi positif tentunya bertujuan baik, karena itu tetap layak dilakukan jika ditujukan untuk mengikis pikiran negatif. Dan ketika repetisi afirmasi positif dilakukan terus menerus serta menjadi kebiasaan, maka tentunya lambat laun akan tertanam di pikiran bawah sadar sehingga menjadi kebiasaan yang baru, yaitu kebiasaan berpikir positif.
Mana yang lebih efektif? Saya hanya bisa bilang dua-duanya baik. Tapi mana yang lebih kita percayai itulah yang cenderung akan bekerja untuk kita. Karena sehebat apapun sebuah ilmu atau metode, akan tergantung pula dari kepercayaan penuh kita pada ilmu atau metode tersebut.
Wallahualam
Ada yang berbeda pada hari raya Idul Fitri tahun ini. Saya tidak bisa merayakannya bersama keluarga karena urusan kerja. Ini pertama kalinya terjadi dalam hidup saya setelah bertahun-tahun lamanya selalu lebaran bersama keluarga.
Well, memang terasa ada yang hilang, karena tahun ini untuk pertama kalinya pula saya tak bisa makan ketupat, meskipun penjual ketupat sayur ada di mana-mana. Tapi yang lebih terasa adalah karena tak bisa sholat Ied bersama-sama keluarga. Tak bisa dipungkiri, sedih memang. Tapi ada pelajaran berharga yang saya dapatkan, dan selalu ada yang bisa disyukuri karena semua kejadian tak ada yang sia-sia.
Pertama, untuk pertama kalinya saya Sholat Ied bersama orang-orang yang tidak saya kenal. Dan setelah selesai sholat, kami saling berjabatan tangan. Terasa sekali persaudaraan sesama muslim di sana. Bahkan saya bersalaman dengan para petugas polisi yang bertugas menjaga keamanan di sekitar tempat sholat. Rasanya menyenangkan bisa bersilaturahmi dengan orang-orang yang tidak saya kenal tapi terasa seperti saudara dekat.
Kedua, karena tempat sholat Ied ini bersebelahan dengan perumahan penduduk yang kurang mampu, baru kali ini saya menyaksikan ada orang-orang yang sholat Ied dengan baju seadanya. Mungkin karena tak bisa membeli baju baru atau cuma itu baju terbaik yang mereka punya. Bahkan ada yang tak punya sajadah, mereka sholat hanya beralaskan koran bekas. Melihat itu, saya jadi berpikir mungkin juga mereka tak punya ketupat untuk dimakan sehabis sholat. Trenyuh juga melihatnya, tapi di sisi lain mengingatkan saya untuk bersyukur karena masih punya baju yang bagus, dan hidup saya masih jauh lebih beruntung dibandingkan mereka.
Ketiga, berhubung saya tak bisa lebaran karena urusan pekerjaan, maka perusahaan membayarkan saya untuk tinggal sementara di sebuah kost mewah di wilayah yang berdekatan dengan gedung kantor tempat saya bekerja. Melihat fasilitasnya yang wah, maka saya tak heran begitu mengetahui berapa sewa kostan tersebut sebulannya. Tapi kalau mesti pakai uang sendiri, saya pasti akan pikir-pikir dulu untuk kost di sana. Karena biaya per bulannya sebanding dengan biaya untuk nyicil rumah sekaligus mobil. Tapi saya sangat bersyukur bisa menikmati fasilitas mewah tersebut karena membuat saya merasa sangat berkelimpahan, hehehe...norak deh :)
Intinya, pengalaman ini membuat saya mendapat kesempatan untuk merasakan kehidupan yang tidak seperti biasanya, sehingga saya jadi tahu apa rasanya tidak bisa berlebaran bersama keluarga, bahkan apa rasanya tak bisa makan ketupat di hari raya. Karena faktanya cukup banyak mereka yang tak bisa berlebaran dikarenakan harus bekerja demi negara atau melayani masyarakat sehingga tak bisa menikmati ketupat.
Terima kasih atas pengalaman istimewa ini Ya Tuhan, mudah-mudahan menjadikan Aku sebagai hamba-Mu yang selalu ingat untuk bersyukur pada-Mu :)
Dan kepada para sahabat yang suka mengunjungi blog saya, atas nama pribadi saya ucapkan selamat hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1431H, mohon maaf lahir batin atas segala kesalahan, terutama jika ada tulisan-tulisan yang tidak berkenan.
Wassalam
Goen
---
http://power-within.com
Facebook: Power Within
