Suatu sore saya berkumpul dengan beberapa sahabat, ngobrol ngalor ngidul, dan akhirnya entah bagaimana awalnya topik pembicaraan jadi beralih ke masalah hutang piutang. Dua dari 5 orang yang hadir di sana mengungkapkan kekesalannya karena punya piutang yang belum dibayar juga, padahal sudah terlalu lama, nagihnya susah banget kata mereka.
Kemudian, saya memberikan pendapat dengan mengutip sebuah hadits yang isinya kurang lebih mengatakan bahwa jika seseorang meminjamkan uang pada orang lain, maka orang tersebut akan mendapat pahala sedekah setiap hari hingga piutangnya dilunasi atau dilunaskan.
Baru saja saya menyelesaikan kalimat, tiba-tiba teman saya yang seorang lagi langsung menyambung dengan nada tinggi, "KALAU IKHLAS!!"
Saya tidak membalas, saya memilih diam dan merenung..."Sebegitu sulitkah untuk ikhlas? Apakah orang tidak suka dengan pahala sehingga lebih memilih piutang dibayar daripada diberi pahala sedekah?" pikir saya.
Sudah banyak bukti ketika seseorang mampu mengikhlaskan piutangnya dalam arti dibayar syukur, ga dibayar berarti akan dapat yang lebih baik, maka rejekinya malah datang dari tempat yang lain, karena orang-orang seperti itu tidak mengandalkan piutangnya sebagai satu-satunya jalan rejeki meskipun mereka sedang kepepet juga.
Tentu saja piutang boleh ditagih, tetapi menurut saya sebaiknya jangan jadikan piutang sebagai sandaran, karena itu berarti kita melimitasi rejeki yang bisa datang dari berbagai arah.
Ikhlas memang tidak semudah kata-kata, tetapi sebenarnya bukan ikhlasnya yang sulit melainkan sikap sulitlah yang membuat kita tidak bisa ikhlas. Dan jika kita merasa sulit ikhlas tetapi ingin bisa ikhlas, maka niatkanlah untuk bisa ikhlas, pasti Tuhan memberikan jalan agar kita bisa ikhlas dengan sebenar-benarnya ikhlas.
Semoga kita senantiasa menjadi hamba-hamba-Nya yang ikhlas. Ikhlas pada saat sulit, tapi juga ikhlas untuk bahagia :)
Wallahualam
Saya baru sadar kalau sudah lama saya tidak menulis di blog ini. Ternyata saya lupa kalau saya punya blog :D
Yang mengingatkan saya untuk menulis kembali adalah sebuah buku bagus dari Kang Arul yang berjudul Writerpreneur. Di dalam buku itu disebutkan bahwa menulis adalah kemampuan yang membutuhkan maintenis...eh maintenance rutin. Karena seperti halnya skill yang lain, menulis pun adalah skill yang ketajamannya akan berkurang jika jarang diasah.
Tapi blog memang bukanlah satu-satunya tempat saya mengasah kemampuan menulis, karena saya juga kadang menulis di FB, dan baru-baru ini menyelesaikan sebuah naskah yang rencananya akan dibukukan. Ini juga salah satu hal yang membuat saya sibuk sehingga jarang menulis di blog.
Tadinya saya tidak mau menerbitkan buku apalagi buku bertema pengembangan diri. Bukan apa-apa, tanggungjawabnya berat, karena setiap kata yang ditulis mengemban beban moral, harus bisa saya buktikan dan saya jalankan sendiri, bukan sekedar omong doang. Saya pikir lebih baik menulis novel daripada buku pengembangan diri. Tapi atas dorongan beberapa temanlah saya berusaha mendobrak rasa ketidaknyamanan untuk menerbitkan buku.
Sebenarnya saya sudah menerbitkan buku dalam format ebook yang bisa dibeli di http://power-within.com. Tetapi seorang sahabat yang juga seorang penulis menyarankan saya untuk menulis buku cetak, dan dia mengusulkan agar ebook saya diterbitkan dalam format buku cetak saja. Tetapi saya memilih alternatif lain, ebook saya akan tetap menjadi ebook dan tak akan pernah diterbitkan dalam versi cetak. Jadi saya memutuskan untuk menulis sesuatu yang berbeda untuk versi cetak, meskipun beberapa poin memang ada yang diambil dari beberapa bab dalam ebook Power Within, tetapi secara keseluruhan sangat berbeda.
Tadinya saya ragu karena merasa bukan siapa-siapa, jadi kenapa saya harus menerbitkan buku? Tapi saya diingatkan bahwa tak perlu menjadi seorang ustad atau motivator untuk menerbitkan buku, kalau memang ada dorongan untuk itu, just do it! So, saya beranikan diri untuk mengirimkannya ke sebuah penerbitan, dan saat ini tengah menunggu kabar apakah buku saya layak diterbitkan atau tidak. Kalau bisa diterbitkan ya syukur, kalau tidak...ya cari penerbit lain yang mau menerbitkan :)
Di sisi lain, menulis buku juga adalah salah satu action yang saya lakukan untuk mengukur seberapa besar pencapaian yang telah saya dapatkan dari tahun ke tahun. Karena saya tidak mau hidup datar-datar saja, harus ada peningkatan dari hari ke hari. Syukur-syukur jika buku saya bisa terbit dan menambah ramai khazanah perpustakaan di bumi Nusantara.
Selama ini sudah ratusan buku yang saya baca. Terkadang saya kecewa ketika membaca buku yang judulnya bombastis tapi isinya biasa-biasa saja. Tetapi ketika kelepasan menilai sebuah buku sebagai biasa-biasa atau bahkan jelek, maka saya harus cepat-cepat Istighfar, karena menilai sebuah buku sebagai jelek sama saja dengan tidak menghargai hasil kerja keras sipenulis. Dalam arti yang lebih ekstrim lagi adalah menghina dan melecehkan karyanya.
Nah, kalau sudah begini, maka pertanyaan yang harus saya ajukan pada diri sendiri adalah...Kalau begitu kamu bisa bikin buku yang lebih bagus gak? Jangan bisanya ngomong doang, ngomentarin karya orang dan mengatakannya jelek, memangnya kamu punya karya yang diterbitkan?
DZIIGG!! Itu pertanyaan yang menonjok. Karena kita memang lebih mudah berkomentar tapi belum tentu bisa melakukan. Seperti halnya lebih mudah jadi penonton daripada jadi pemain. Seorang penonton bisa saja menyebut "Go block!" pada seorang pemain bola yang gagal mencetak gol padahal peluang sangat terbuka, tapi apa si penonton pasti bisa melakukannya jika dia berada di posisi si pemain? Belum tentu Gan. Bahkan main bola saja belum tentu bisa :)
So, daripada hanya menjadi penonton, maka saya memutuskan ikut bermain, agar tahu apa yang dirasakan pemain. Mungkin nanti akan banyak dukungan, tapi juga akan ada komentar yang tidak menyenangkan, mungkin akan ada penilaian negatif, atau mungkin akan ada yang meremehkan. Ya sudahlah, itu resiko, yang penting saya sudah take action. Dan seperti sebuah ungkapan yang pernah saya dengar entah di mana, "Ketika kau sukses, akan banyak musuh dan teman-teman palsu. Meskipun demikian tetaplah sukses!"
So, mari kita take action untuk meraih hidup yang lebih baik, dan raihlah sukses itu sesuai definisi kesuksesan masing-masing :)
Take action miracle happen, no action nothing happen!
(Tung Desem Waringin)
Tak terasa setahun berlalu begitu cepat. Menjelang akhir tahun, orang pun mulai membuat resolusi untuk tahun berikutnya, tentang hal-hal yang ingin mereka capai di tahun depan.
Tentunya ini hal yang sangat bagus, karena bagaimanapun juga hidup yang terencana jauh lebih baik dibandingkan hidup yang hanya 'ngalir' saja, dalam arti pasrah tanpa mau berbuat apa-apa.
Akan tetapi, resolusi hidup baru tidaklah untuk dibuat hanya pada akhir tahun atau awal tahun saja, karena perubahan itu terjadi setiap saat, karena perubahan adalah evolusi, dan evolusi tak akan terhenti hingga akhir masa nanti.
Artinya, setiap saat kita mesti peka dengan perubahan, setiap saat kita mesti membuat resolusi untuk bertransformasi, setiap saat kita mesti mengamati perilaku kita, sikap kita, perkataan kita, dan pikiran kita. Sudahkah lebih baik dari diri kita yang kemarin-kemarin? Ataukah sama saja? Atau lebih buruk lagi?
Banyak orang yang membuat resolusi dengan mendesain mimpi yang tinggi. Dan tak bisa dipungkiri kebanyakan cita-cita kesuksesan adalah pencapaian dalam soal materi. Tetapi sudahkah kita membuat resolusi untuk perbaikan dari dalam diri?
Sudahkah kita iringi resolusi pencapaian kesuksesan itu dengan permintaan agar dihindarkan dari kesombongan, rasa bangga yang berlebihan, dan semakin didekatkan dengan Tuhan?
Sebuah kesuksesan haruslah memiliki keseimbangan. Bukan hanya pencapaian secara material, tapi juga secara spiritual. Semoga kita dimudahkan mencapai hidup yang lebih baik, bukan hanya untuk kepentingan dunia, tapi juga untuk kebaikan di akhirat kelak.
Selamat membuat resolusi hidup baru :)
